Butik Najma Lasem

Butik Najma Lasem

Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi yang menjadi bagian budaya asli Indonesia. Dengan nilai seni tinggi, di bidang busana itulah, sejak 2 Oktober 2009, UNESCO telah menetapkan batik menjadi warisan kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Butik Najma, yang beralamatkan di Jl. Soditan, No.09, Lasem
Di Lasem, banyak sekali pengrajin batik yang dikenal dengan batik tulis lasem. Bukan hanya memproduksi sehelai kain batik tulis saja, sekarang para pengusaha batik tulis lasem telah melakukan banyak inovasi terhadap kain batik tulis lasem. Seperti yang dilakukan oleh Juhar Tutik pemilik Butik Najma, yang beralamatkan di Jl. Soditan, No.09, Lasem.

Butik Najma merupakan sebuah toko pakaian yang melakukan inovasi terhadap kain batik. Di Butik Najma inilah Anda akan mendapatkan berabagai macam bahan batik tulis lasem yang disulap menjadi pakaian pria & wanita yang terdiri dari; gamis katun, gamis batik, baju kerja, gamis sutera, gamis haji, dan baju katun. Selain itu juga tersedia T-Shirt, mukena, jilbab yang semuanya dipadukan dengan kain batik tulis lasem. Tak usah khawatir jika Anda butuh kain batik lasem secara utuh, Butik Najma juga menyediakan dengan berbagai pilihan motif.

Semakin spesial, pemilik Butik Najma juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tercatat Butik Najma pernah ikut berpartisipasi dalam berbagai acara sosial dan kebudayaan di Lasem, Pamotan hingga Rembang. Beberapa kegiatan sosial yang didukung oleh Butik Najma diantaranya; Lasem Fest 2014, Santunan Anak Yatim, Program Komputer Pintar dan Baksos Pakaian Hari Raya.

Dengan lokasi yang mudah diakses, yaitu di pusat Kota Lasem atau di sebelah utara Masjid Lasem, Butik Najma sangat pas untuk menjadi tempat kunjungan dan mencari tempat oleh-oleh Batik Tulis ketika Anda  melintas di Lasem. Butik ini juga melayani delivery atau pesan antar jika Anda tidak ingin repot-repot keluar rumah. Anda tinggal pilih motif batik yang akan Anda beli, di alamat website butiknajma.com atau hubungi nomor telepon +6285225404088 dan +6287717333488 jika Anda perlukan. Selamat belanja dan selamat melestarikan warisan budaya bangsa.[ean]

Kontak:
Website           : butiknajma.com
e-mail              : juhartutik@gmail.com
facebook         : Juhar Tutik

twitter             : @butiknajma

(sumber: http://wartarembang.com/butik-najma-lasem/) 
Program Harapan untuk Penguatan Prodi Sosant*

Program Harapan untuk Penguatan Prodi Sosant*

Suasana Seminar Nasional Penguatan Kelembagaan (Doc. Ika Sosant, 2016)
Pada tren saat ini, tiap-tiap sekolah cenderung membutuhkan guru profesional. Guru profesional yang diharapkan adalah guru yang memiliki kompetensi penguasaan materi mata pelajaran yang diajarkan dan memiliki ragam kompetensi pedadogik yang menyenangkan. Dengan dua kompetensi yang dimiliki guru tersebut, pihak sekolah yakin akan berhasil mendongkrak prestasi siswa yang handal. Dengan tren permintaan guru profesional saat ini dan masa depan, tentu lembaga pencetak tenaga kependidikan tidak boleh tinggal diam. Maka dari itu hal yang harus dilakukan adalah rekayasa penguatan tiap-tiap program studi yang ditawarkan.

Menanggapi tren kebutuhan guru profesional pada masa kini dan masa depan nanti, jurusan Sosant Unnes yang memiliki prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi harus memperhatikan dua hal. Pertama, proses perkuliahan harus didampingi oleh para pakar. Kedua, tiap-tiap lulusan harus diuji dan teruji kompetensinya dalam hal pengajaran.

Proses perkuliahan para calon guru Sosant yang didampingi para pakar (dosen berkualitas), tentu akan melahirkan lulusan yang mapan. Sebaliknya, lulusan tidak akan berkualitas jika para dosen tidak memiliki kepakaran dalam mata kuliah yang diajarkan. Untuk bagian ini, kita percaya bahwa jurusan Sosant adalah jurusan yang telah cukup memiliki para pakar dalam proses perkuliahan. Kita juga yakin jurusan Sosant senantiasa menjaga dan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kepakaran para dosen yang mengajar di jurusan.

Begitupun dengan kualitas lulusan yang dilahirkan. Tidak diragukan lagi, jurusan Sosant adalah jurusan yang cukup menarik diperhatikan karena para lulusannya cukup banyak terserap di lembaga pendidikan . Karena lahirnya jurusan ini adalah jawaban dari permintaan guru Sosant yang cukup tinggi, namun di sisi lain terjadi kelangkaan sarjana pendidikan yang berlatar belakang keilmuan yang sama. Dengan itu menjadi alumni jurusan Sosant, tentu patut berbangga hati. Namun demi terjaganya kualitas lulusan, sebagai alumni kita harus tetap memberi kritik dan masukan yang sifatnya membangun kepada jurusan.

Perihal menjaga dan meningkatkan kualitas dosen yang kapasitasnya adalah para pakar, hal itu merupakan ruang kreatifitas pihak jurusan. Adapun pada tulisan ini hanya memfokuskan pada bagian yang kedua, yaitu memberi masukan program agar tiap-tiap lulusan memiliki kompetensi menjadi calon pengajar yang handal.

Berikut ini merupakan harapan program yang kemungkinan dapat diterapkan dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusan prodi di jurusan sosant. Terdapat lima harapan program yang hendak ditawarkan. Lima harapan pragram tersebut di antaranya: Program KKN Membangun Desa; Program Wisata Edukasi Laboratorium Penelitian Sosial; Program Produksi Buku Ajar; Program Penerbitan Karya Guru; dan Program Penguatan Kerjasama kepada Pihak Luar. Lima program di atas tentu perlu dikritisi ulang sebelum diimplementasikan.

Pertama, Program KKN Membangun Desa. Sudah saatnya Jurusan Sosiologi & Antropologi Unnes menawarkan program KKN (Kuliah Kerja Nyata) para mahasiswa dalam penyiapan data pembangunan desa. Harapan program ini berangkat dari minimnya data pendukung untuk membangun desa. Terlebih pada saat ini pemerintah sedang menggulirkan dana desa yang cukup besar untuk pembangunan. Dengan support data pembangunan desa, diharapkan pihak desa mampu merencanakan pembangunan desa dengan baik.

Harapan program KKN mahasiswa Sosant membangun desa tentu bukanlah tanpa dasar. Program KKN sebagai pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, sudah saatnya disinergikan dengan relefansi kurikulum prodi Sosant di lapangan, khususnya mata kuliah Sosiologi Pembangunan dan Antropologi Pembangunan. Pihak jurusan sebisa mungkin membuat instrumen pendukung program penyiapan data pembangunan desa yang disinergikan dengan kapasitas dan kapabilitas para mahasiswa yang akan melangsugkan program KKN tersebut.

Beberapa program KKN yang perlu digulirkan dalam penyiapan data pembangunan desa di antaranya: Kajian Etnografi Desa, Produksi Film Dokumenter Desa, Pembaruan Peta Potensi Desa, Website Desa, Pembuatan Buku Profil Desa, Promo Produk Unggulan Desa, Promo Desa Wisata, dan Mendirikan Komunitas-komunitas Pendukung, misalnya Komunitas Baca, Komunitas Pelestari Tradisi, hingga Komunitas Pelestari Alam Desa Adat. Dengan didukung ketersediaan data pembangunan desa di atas, terlebih hasil data yang ada bernuansa ideal, indepent, dan terbarukan, maka data-data tersebut  akan dapat dipergunakan oleh pihak desa dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka membangun desa yang mandiri dan berdaulat.

Kedua, Program Wisata Edukasi Laboratorium Penelitian Sosial untuk Siswa. Program wisata edukasi ini merupakan rekayasa teknologi informasi dan komunikasi yang terkendali dalam ruangan, yang menyuguhkan teknik penelitian sosial bagi siswa SMA dan sederajat. Laboratorium penelitian sosial untuk siswa ini merupakan rangkaian ruangan yang terintegrasi--yang di dalamnya memuat teknik penelitian sosial sederhana. Ruang laboratorium sebisa mungkin didesain sedemikian rupa dengan nuansa wisata.

Latar belakang harapan program wisata edukasi ini adalah tentang minimnya pemahaman siswa dalam menyusun perencanaan penelitian sosial. Pada umumya para siswa juga belum memiliki kompetensi dalam melakukan penelitian sosial walaupun sifatnya sederhana.

Secara teknis, ruang laboratirum sosial ini setidaknya memiliki lima ruangan yang saling terintegrasi. Lima ruangan tersebut di antaranya: Ruang Mengenal Penelitian Sosial, Ruang Belantara Masalah Sosial, Ruang Digitalisasi Perencanaan Penelitian Sosial, serta Ruang Pusat Oleh-oleh Edukasi.

Ruang Mengenal Penelitian Sosial menekankan pada filosofi ilmu pengetahuan sosial, urgensi penelitian sosial, dan tanggung jawab siswa IPS. Dalam ruangan inilah para siswa akan mendapatkan beragam informasi holistik tentang paradigma ilmu-ilmu sosial. Dalam ruangan ini pula siswa akan mendapatkan latar belakang mengapa yang bersangkutan perlu memiliki kompetensi merencanakan penelitian. Dan juga dalam ruangan ini para siswa mendapatkan informasi perihal peranan siswa di era kekinian melalui penelitian dan hasil penelitian untuk sumbangsih membangun negeri yang mapan.

Ruang belantara masalah sosial merupakan display dari masalah sosial terdahulu, masa kini, hingga masalah-masalah sosial yang akan muncul di kemudian hari. Ragam display masalah sosial dapat meliputi beragam bidang. Mulai dari Masalah Sosial Bidang Tanah, Air, Udara, Bahasa, Tradisi, Seni, Religi, Fashion, Pendidikan, teknologi, Mata Pencaharian, Iklim, Peternakan, Pertanian, Kelautan, Transportasi, Komunikasi, Uang, dan lain sebagainya. Display dari beragam bahan tersebut dapat ditunjang dari karya mahasiswa dan dosen jurusan Sosant sendiri. Adapun bentuk display dapat dalam bentuk Film Dokumenter, Galeri Foto, Audio, Kliping, X-banner, Majalah, Jurnal, dan lain-lain.

Ruang digitalisasi perencanaan penelitian sosial merupakan ruang pintar yang di dalamnya terdapat beragam alat digital yang diperuntukkan melayani para siswa untuk merencanakan penelitian sosial. Digitalisasi perencanaan penelitian sosial di dalamnya memuat pangkal data siswa dan tombol peminatan penelitian sosial. Pangkal data siswa diperuntukkan untuk menyimpan data asal sekolah siswa serta sekaligus menghubungkan beragam masalah-masalah sosial terkini di daerah tempat tinggal siswa berada. Selanjutnya tombol peminatan penelitian sosial memuat tentang beragam tombol digital yang didesain sedemikian rupa menyerupai langkah-langkah penyusunan rencana penelitian sosial yang sifatya sederhana. Tombol pintar secara sistematis dapat memuat tentang pilihan tema Penelitian, Pilihan Masalah, Lokasi Penelitian, Tujuan dan Manfaat, Kajian Teori dan Telaah Pustaka, Instrumen Penelitian, Sumber Data yang digunakan, Teknik Pengumpulan Data yang Dipilih, hingga Pendekatan Analisis yang Digunakan. Ruang Digitalisasi Perencanaan Penelitian Sosial perlu disiapkan sedemikian rupa dengan memanfaatkan aplikasi program komputerisasi terkini yang sifatnya sangat peka dan pintar dalam hal membantu siswa saat merancang penelitian sosial.

Ruang paket souvenir penelitian sosial merupakan ruang visualisasi dan printout dari digitalisasi perencanaan penelitian sosial sebelumnya. Pada ruang inilah, pihak jurusan dapat melakukan transaksi jasa kepada para siswa. Beragam jasa yang dapat dipertukarkan kepada siswa di antaranya: Printout Rencana Penelitian Sosial, CD/DVD Bahan Pendukung Penelitian, Stiker Penelitian, Kaos Penelitian Sosial, Tas Penelitian Sosial, ID card Penelitian Sosial, Booknote Penelitian Sosial, hingga Sertifikat Pelatihan Perencanaan Penelitian Sosial Berbasis Wisata Edukasi melalui Laboratorium Penelitian Sosial jurusan Sosant, Unnes. Di sinilah para siswa akan mendapatkan produk belajar penelitian sosial sembari wisata edukasi yang menyenangkan.

Selanjutnya adalah ruang pusat oleh-oleh wisata edukasi. Ruangan ini dapat didesain sedemikian rupa dengan nuansa wisata. Keadaan yang nyaman dan menyenangkan menjadi penting dihadirkan di ruangan ini. Beragam produk jurusan Sosant dan beragam produk luar yang relevan dapat ditawarkan di ruangan ini. Beragam produk mulai dari Kuliner Sosial, Replika Sosial budaya dan Adat Nusantara, hingga Minuman Segar, dari semua contoh tersebut dapat ditawarkan. Pada ruangan ini juga dapat dilengkapi dengan Toko Buku SMA, Info Perguruan Tinggi, Jasa Bimbingan Penelitian dan Masuk Perguruan Tinggi, Bursa Kerja, serta Fasilitas Permainan Tradisional hingga Fasilitas Beribadah.

Jika suatu ketika program ini dapat terealisasi, Program Wisata Edukasi Penelitian Sosial ini dapat diintegrasikan dengan program jurusan Sosant yang sudah mapan, di antaranya program Olimpiade Sosiologi SMA se-Indonesia bahkan hingga olimpiade guru sosiologi se-Indonesia.

Ketiga, Program Produksi Bahan Ajar Saat Kuliah. Harapan adanya program ini berangkat dari pengamalan para alumni saat pertama kali mengajar mata pelajaran sosiologi. Singkat cerita, mereka pada umumnya terasa kurang memiliki referensi bahan ajar. Apalagi bahan ajar saat kuliah yang didapatkan tidak serta merta dapat digunakan para siswa. Beragam materi kuliah yang didapatkan mau tidak mau harus diracik ulang guna keperluan pembelajaran siswa di kelas. Untuk itu tugas mahasiswa Sosant saat kuliah jangan terkesan hanya sebatas untuk lulus saja. Sudah saatnya pihak jurusan merancang sedemikian rupa untuk menyiapkan calon guru Sosant agar siap mengajar dengan kompenten dan kapabalitas yang memadai.

Program produksi bahan ajar yang dapat disiapkan sebisa mungkin diintegrasikan dengan silabus sosiologi sesuai tingkat kelas dan penjurusannya. Adapun tematik bahan ajar yang dapat diproduksi (dicetak) di antaranya materi tentang: Interaksi Sosial, Norma Sosial, Tindakan Sosial, Diferensiasi Sosial, Stratifikasi Sosial, Mobilitas Sosial, Kelompok Sosial, Masyarakat Multikultural, Lembaga Sosial, Gender dan Pembangunan, hingga Teknik Penelitian Sosial.

Bahan ajar yang telah tercetak di atas, dapat diuji-cobakan pada saat mahasiswa Sosant melangsungkan program PPL (Praktik Pengalaman Lapangan). Usai pelaksanaan program PPL, bahan ajar tersebut dapat difinalisasi sedemikian rupa hingga layak menjadi bahan ajar untuk para siswa SMA dan sederajat. Tindak lanjut dari program ini juga dapat mendorong munculnya para penulis buku teks sosiologi yang masih langka.

Keempat, Program Penerbitan Karya Guru. Harapan program ini pun berangkat dari pengalaman Penulis dan teman-teman guru sosiologi dan juga antropologi sejawat. Suatu ketika saya menulis sebuah artikel hasil penelitian. Singkat cerita, tulisan tersebut Penulis kirim ke Jurnal Komunitas, yang saat itu kebetulan dimuat. Namun ketika Penulis bertemu dengan guru sosiologi yang lain, ternyata menulis artikel penelitian hingga dimuat di Jurnal Komunitas bukanlah mudah. Terlebih saat ini Jurnal Komunitas menjadi jurnal yang memiliki prestige tersendiri yang diburu para penulis baik dalam maupun luar negeri.
Berangkat dari kenyataan di atas, sudah saatnya jurusan mendorong para guru sosiologi untuk tetap produktif dalam karya ilmiah, dengan cara pihak jurusan memfasilitasi layanan penerbitan produk karya ilmiah guru. Fasilitasi layanan penerbitan yang dimaksud adalah pihak jurusan Sosant mendirikan lembaga penerbitan. Lembaga penerbitan yang ada diharapkan mampu melayani guru Sosant untuk menerbitkan karya-karyanya.

Beberapa karya guru yang dapat difasitasi pihak jurusan Sosant di antaranya:  Penerbitan Jurnal Khusus Hasil Penelitian Skripsi, Penerbitan Bahan Ajar, Penerbitan Junal Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Penerbitan Jurnal Gagasan Pembelajaran Inovatif, Penerbitan Media Pembelajaran Inspiratif, Penerbitan Lembar Kerja Guru dan Siswa, termasuk juga karya-karya para siswa IPS yang menarik. Melalui produk penerbitan inilah, komunikasi keilmuan dan pembelajaran serta pengajaran dapat terjalin dengan baik.

Kelima, Program Kerjasama. Program kerjasama yang dimaksud adalah program tindak lanjut saat mahasiswa Sosant lulus kuliah. Gagasan program kerjasama ini berangkat pula dari pengalaman di lapangan bahwa tidak semua mahasiswa Sosant yang lulus langsung dapat pekerjaan. Menanti dan menanti panggilan dari surat lamaran adalah masa-masa liminal yang tidak jelas dan membosankan. Bahkan studi lanjut pascasarjana dilakukan dalam rangka menutupi pengangguran semu ini. Untuk itu, pihak jurusan Sosant diharapkan selalu membangun kerjasama kepada pihak manapun dalam rangka mempromosikan para lulusannya yang siap kerja di lapangan, termasuk kerjasama studi lanjut di kemudian hari. Bagi kami para alumni, pendampingan dan informasi lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif saat ini, sangat kami butuhkan. Walaupun lagi-lagi, Tuhanlah yang menentukan.



Pamotan, 16 Juli 2016

* Disampaikan dalam Seminar Nasional “Kontribusi Alumni untuk Penguatan Kelembagaan Prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi FIS Unnes, Minggu 17 Juli 2016.

** Penulis adalah alumni mahasiswa Prodi Sosiologi & Antropologi, angkatan 2002. Saat ini mengajar di SMA Negeri 1 Pamotan, Rembang. Saat ini juga aktif menjadi tim instruktur kurikulum 2013 untuk guru sasaran sosiologi Provinsi Jawa Tengah.
Politik Etis Gagal Total

Politik Etis Gagal Total


Suatu telaah kritis tulisan Ricklefs dalam bukunya (terjemahan)
yang berjudul “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008”

Oleh: Suhadi Rembang[1]

Tulisan yang dimuat pada halaman 327 hingga halaman 351, terlihat jelas bahwa politik etis[2] yang didedahkan dari buah pikir para akademisi Belanda sebagai buah kasih dari Belanda kepada Indonesia (Jawa khususnya), gagal total. Tiga program unggulan yang dijalankan sebagai balas kasih[3] mulai dari program edukasi, irigasi, dan transmigrasi, menurut Ricklefs, hanya sebagai topeng (bahasa penulis) agar Belanda mendapatkan simpati dan nama baik, jika kelak harus hengkang dari tanah kepulauan ini. Gagalnya politik etis inilah yang menurut Ricklefs hanya sebagai zaman penjajahan baru. Terbukti, dalam catatan akhir Ricklefs, program politik etis hanya menjadi industri pergerakan sosial yang menentang hingga melawan keberadaan Belanda itu sendiri.

Kegagalan itu, menurut Ricklefs (2008), dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, lahirnya politik etis dibarengi dengan gerakan investasi global di Indonesia. Ricklefs memandang, apapun program dalam politik etis, nantinya tetap memiliki kepentingan profit. Hal tersebut kemudian dapat dilihat adanya kebijakan yang melebar, dari Jawa, meluas menjadi ke luar Jawa. Luar Jawa lebih menarik sebagai pusat politik etis karena daerah tersebut masih memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Sedangkan jawa telah dalam keadaan rusak yang tentunya menyedot dana besar dari kas negara Belanda.

Kedua, adanya dua pandangan yang memiliki pusaran berbeda. Ada yang berpandangan politik etis harus mampu menumbuhkan kecerdasan dan kesejahteraan agar tercipta kemandirian sosial. Namun pusaran kedua berpandangan berbeda, dimana kecerdasan dan kesejaheraan tidak serta merta di berikan agar tercipta kemandirian sosial. Kasus ini dapat dilihat dengan program pendidikan yang tidak menggunakan bahasa pengantar lokal, mereka yang sekolah hanya anak-anak bupati, hingga penyumbatan aliran dana politik etis.

Ketiga, terjadinya pertarungan sturktur pada pemerintahan lokal (Indonesia), dimana para bupati dan pejabat pemerintahan lokal lainnya cenderung menguasai dan menimati porgram politik etis Belanda. Adapun sasaran masyarakat lokal, menjadi penonton dari luar.

Kegagalan politik etis itu kemudian, menurut Ricklefs, menjadi industri yang menghasilkan masalah-masalah sosial dan struktural. Transmigrasi hanya sebagai program mobilisasi buruh untuk menanam tanaman unggulan pasar internasional. Transmigrasi juga menciptakan kekaburan hubungan antar kepulauan yang tidak harmonis lagi karena adanya sentralisasi yang memihal pulau-pulau tertentu. Selanjutnya, program edukasi juga menghasilkan masalah baru. Masyarakat lokal harus menanggung biaya bangunan sekolah dan iuran sekolah sekaligus yang didirikan di desa-desa. Program edukasi ini kemudian semakin mencekik masyarakat desa. Mereka sedang dihantui busung lapar, namun untuk menjadi cerdas harus menggadaikan martabatnya agar anak-anaknya bisa sekolah. Begitu halnya dalam hal irigasi. Program ini hanya sebagai proyek irigasi yang mangkrak, yang tidak mampu mendulang kemandirian pangan di tiap-tiap desa.

Terlepas dari sisi kritis seorang Ricklefs dalam mengkritisi program politik etis yang gagal total itu, ada hal yang menarik yang patut kita cermati. Pertama, Ricklefs tidak memotret pemikiran pribumi akan pengaruhnya dalam melahirkan potilik etis. Mengapa Ricklefs  hanya menampilkan pusaran pemikiran politik etis itu hanya dari sudut Belanda. Terlihat politik etis hanya memiliki relasi tunggal (Belanda). Kedua, Ricklefs dengan lugas membandingkan kegagalan politik etis Belanda di Indonesia dengan keberhasilan politik etis Amerika Serikat di Vietnam.  Mengapa perbandingannya hanya Vietnam dan memiliki relasi dengan Amerika Serikat. Ricklefs juga tidak dengan lengkap memuat peranan kaum imperialis klasik hingga modern dalam menancapkan program politik etis pada daerah-daerah jajahannya. Tentu saja, tulisan Ricklefs ini mengundang tanya.

Tulisan Ricklefs tentang zaman penjajahan baru dapat kita jadikan bahan pelajaran untuk membangun Indonesia masa depan. Ricklefs telah memberikan pelajaran penting pada kita (bangsa Indonesia), dimana dalam menjalankan program pembangunan, harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Keberanian Ricklefs menuding Belanda dalam politik etis yang penuh dengan keragu-raguan akan data yang memuat hasil politik etis, jangan sampai kita tiru. Jangan-jangan banyaknya kasus kemiskinan pada diri kita ini, akibat dari keberlangsungan zaman penjajahan baru.

Sumber review:
Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. Halaman: 327 – 351.

Ngaliyan, 25 November 2011


[1] Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Pamotan, sedang studi lanjut di Pendidikan IPS PPs UNNES.
[2] Politik etis berawal dari kritik yang dimuat oleh novel Max Havelar (1860) yang menuntut kebiadapan pemerintah Belanda dalam menciptakan penderitaan masyarakat Jawa (lihat hal, 37).
[3] Saya tidak begitu sepakat dengan istilah balas kasih yang dicetuskan pada akademisi Belanda yang menaruh empati pada Indonesia. Istilah politik etis pun, saya melihat ada unsur eufimistis dan hiperbol. Adapun van Deventer menyebutnya sebagai “suatu utang kehormatan”. Apakah kita pernah dipandang terhormat. Lagi-lagi kita sedang dalam pangkuan hegemoni istilah.Bagaimana tidak, rakyat kita ini dipaksa untuk memperkaya Belanda, tetapi mengapa harus di balas dengan kasih. Jelas, paksa dan kasih adalah dua kutup yang berbeda. Adapun van Deventer menyebutnya sebagai “suatu utang kehormatan”. Apakah kita pernah dipandang terhormat. Lagi-lagi kita sedang dalam pangkuan hegemoni istilah.
Kearifan Lokal Dalam Penguatan Pangan Nasional

Kearifan Lokal Dalam Penguatan Pangan Nasional


Salah satu faktor penting yang perlu dijaga dalam suatu negara adalah ketersediaan pangan nasional yang cukup. Ketergantungan pangan nasional hanyalah akan menjadi pencipta suatu kehancuran suatu negara. Agar tidak tercipta ketergantungan pangan nasional terhadap stok pangan dari luar, perlu adanya gerakan kemandirian pangan nasional.

Hal mendasak yang perlu dilakukan diantaranya studi ketersediaan bahan pangan nasional. Selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan rekayasa bahan pangan nasional menjadi suguhan pangan siap saji.

Dengan demikian, maka akan tercipta diversitas ketahanan pangan nasional, tercipta penguatan sistem ekonomi nasional, tercipta tatanan kualitas hidup masyarakat nasional, hingga kemudian terciptanya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.

Studi awal diversitas bahan pangan endemik di tiap-tiap daerah, mendesak perlu dilakukan. Studi terdahulu yang relevan tentang hasil olahan pada tanaman pangan endemik juga menjadi hal penting yang tidak dapat ditinggalkan. Terdapat beragam alasan dan pemilihan salah satu bahan tanaman pangan untuk diolah menjadi makanan kemasan.

Pemilihan bahan tanaman pangan untuk menjadi makanan kemasan-pun perlu diperhatikan. Beberapa hal diantaranya; ketersediaan bahan baku di lapangan, kandungan gizi dalam tanaman pangan sesuai standar, keunggulan khasiat kandungan dalam tanaman pangan, mampu menghidupkan kajian relevan dengan kurikulum sekolah di berbagai jenjang, melibatkan dan memanfaatkan pemilik pengetahun dan ketrampilan lokal sebagai pengolahnya, ketersediaan teknologi tepat guna, terbukanya peluang pasar hasil produk olahan, hingga syarat tentang penopang pelestarian jenis varietas tanaman pangan nasional.

Dengan demikian langkah studi yang menghasilkan jenis makanan kemasan jelas-jelas dinantikan, guna menciptakan keseimbangan akan kelestarian tanaman pangan lokal, pengetahuan lokal, sistem ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat sekitar.
Preseden Buruk Pendidikan Kita

Preseden Buruk Pendidikan Kita


Diskusi dengan teman guru di teras kelas, perihal kelulusan siswa, sebagian besar tiap-tiap sekolah melakukan pengatrolan nilai raport siswa. Pengatrolan nilai siswa yang dimaksud disini yaitu memanipulasi nilai siswa, dimana nilai jelek menjadi nilai baik. Pengatrolan nilai raport siswa yang dilakukan oleh guru (tanpa sepengetahuan siswa dan orang tua) agar siswanya lulus. Karena sejak pada tahun ini (2011), kelulusan siswa tidak hanya dikendalikan nilai UN (Ujian Nasional), nilai raport juga menjadi faktor penting yang menentukan apakah siswa yang bersangkutan itu lulus atau tidak.

Sekolah merasa gagal dalam menjalankan pelayanan pendidikan (mengajar), jika siswanya ada yang tidak lulus. Sekolah juga ketakutan tidak mendapatkan anak didik, jika ada salah satu anak didiknya tidak lulus. Ketakutan psikologis inilah yang mendorong tiap-tiap guru, wakil kepala sekolah, hingga kepala sekolah, menjalankan praktik manipulasi nilai. Dimana nilai raport siswa yang jelek, disulap menjadi nilai cantik.

Tindakan para guru, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah, ternyata menuai preseden buruk. Anak-anak yang nilainya jelek, tiba-tiba berubah menjadi cantik, saling bercerita satu dengan yang lainnya. Cerita ini bahkan merampah kepada adik-adik kelasnya, yang sekarang sedang duduk di kelas bawah hingga kelas yang siap menghadapi ujian. Orang tua murid dan masyarakat juga telah mendengar kabar ini.

Para anak didik sekarang, tidak lagi hawatir akan kelulusan. Orang tua juga tidak lagi hawatir tentang ketidak lulusan anak-anaknya. Karena kelulusan telah dijamin oleh para guru, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah. Tentu anak-anak sekarang tidak usah susah payah belajar untuk mendapatkan nilai raport. Orang tua juga tidak susah payah menyuruh anak-anaknya untuk belajar, karena nilai raport dijamin bagus. Yang penting pada saat ujian digelar, siswa telah lunas bayar spp dan uang bangunan, dan siswa tidak melakukan tindakan asusila, pasti di jamin niai raport memuaskan. Karena jika nilai raportnya jelek, bukan hanya siwanya yang terancam tidak lulus, tapi sekolahnya juga terancam gagal dan ditinggalkan masyarakat, alias tutup.

Jika sebelum tahun 2011, nilai raport masih memiliki muatan kejujuran dari seorang guru, ternyata pada saat ini, ada kecenderungan, nilai raport telah terkontaminasi dengan nilai-nilai kebohongan dari guru. Raport hanya sebagai topeng kepura-puraan. Dan tragisnya, yang menjadi industri kepura-puraan adalah lembaga pendidikan yang pada hari ini masih menjadi harapan (ideal) bagi semua orang.
Keta’atan Beragama (Islam) dalam Masyarakat Nelayan

Keta’atan Beragama (Islam) dalam Masyarakat Nelayan


Agama merupakan seperangkat kaidah untuk dijadikan pedoman hidup manusia. Siapapun manusianya (yang beragama) dipastikan menggunakan agama sebagai pandangan hidupnya, terlebih pedoman hidup yang perlu penjelasan di luar kapasitas manusia. Mereka yang selalu menggunakan norma agama untuk hidupnya, kemudian di sebut taat.

Berdasarkan hasil observasi dilapangan, hidup manusia pada masyarakat nelayan sebagian besar didominasi oleh perilaku menangkap ikan di laut, pembagian hasil tangkapan  laut, mempersiapkan berbagai berbekalan melaut, hingga pengisian waktu luang saat di darat. Dari sudut pandangan fungsi, beberapa perilaku dominan masyarakat nelayan di atas dapat dilihat derajat tingkat ketaatannya.

Jika agama berfungsi sebagai pedoman hidup manusia, tentu saja perilaku dominan masyarakat nelayan di atas terbingkai dengan kaidah-kaidah yang terkandung dalam agama. Jika sebaliknya, perilaku dominan pada masyarakat nelayan cenderung jauh dengan kaidah-kaidah yang terkandung dalam agama, tentu saja (bisa dikatakan) agama telah tidak tampil sebagai pedoman hidup masyarakat nelayan. Jika demikian (perilaku disspiritual), apa orientasi agama pada masyarakat nelayan? Padahal sejarah penyebaran agama (Islam), kawasan nelayan menjadi garda depan dalam menjadi lintasan sosialisasi dan internalisasi keagamaan (Islam).

Jika memang perilaku masyarakat nelayan cenderung jauh dengan kaidah-kaidah agama (Islam),  misalnya dia tidak menjalankan perintah atau kuajiban sebagaimana yang menjadikan dia taat, apakah agama (Islam) tidak menyentuh apa yang dibutuhkan oleh ummatnya (masyarakat nelayan) dalam perilaku keseharinnya? Jika demikian, berarti agama (Islam) tidak memiliki muatan atau kaidah-kaidah untuk bagaimana masyarakat nelayan berperilaku melaut, membagi hasil tangkapan laut, mempersiapkan melaut, dan mengisi waktu luangnya.

Untuk mengetahui berapa derajat campurtangan agama (Islam) dalam memberikan pedoman hidup masyarakat nelayan, perlu dilakukan studi tentang apa yang diperankan oleh penyiar agama (Islam) yang ada di masyarakat nelayan. Penyiar agama (Islam) dapat dijadikan variabel penting dalam suatu agama, karena muatan-muatan yang terkandung dan yang dibawakan oleh agama, diajarkan oleh dan melalui penyiar agama.

Bagaimana menurut anda?
Pernikahan Dini: suatu rekaman awal

Pernikahan Dini: suatu rekaman awal

Oleh: Suhadi Rembang


Tulisan ini merupakan hasil dari kunjungan lapangan kali pertama dan kedua, guna menjajaki permasalahan apa yang pantas penulis angkat dalam menyusun proposal penelitian thesis penulis. Tema besar yang penulis pilih yaitu tentang perkawinan dini di Tegaldowo kecamatan Gunem kabupaten Rembang.

Kunjungan perdana, penulis lakukan tepatnya pada bulan April tahun 2011. Pada kunjungan tersebut, penulis ingin memastikan tentang keberadaan dari fenomena maraknya pernikahan dini yang ada di desa Tegaldowo kecamatan Gunem kabupaten Rembang. Dari kunjungan lapangan kali pertama itu, telah meyakinakan penulis bahwa fenomena perkawinan dini masih berlangsung di sana.

Kunjungan kali kedua pun penulis lakukan untuk menajamkan permasalahan yang hendak penulis angkat pada bulan Oktober 2011. Selain Tegaldowo, penulis juga mengunjungi Pengadilan Agama Rembang. Berikut ini ulasan singkat tentang fenomena pernikahan dini yang penulis dapatkan melalui pengamatan, wawancara terhadap petugas pembantu nikah Tegaldowo, dokumen pernikahan dan gugat cerai, serta wawancara dengan panitera Pengadilan Agama Rembang.

Tegaldowo dalam Administrasi

Secara administratif, Tegaldowo adalah bagian dari kecaman Gunem kabupaten Rembang.  Dinamika sosial, tegaldowo sendiri  terbagi dalam enam daerah kecil yaitu kelurahan Tegaldowo, dukuh Dukoh, dukuh Ngelu, dukuh Nglencong, dukuh Karanganyar, dan dukuh Ngablak. Tiap-tiap dukuh memiliki corak kehidupan sosial tersendiri.

Ekonomi Kuat dan Ekonomi Lemah

Ekonomi kuat dan ekonomi lemah, menjadi istilah populer di masyarakat Tegaldowo, dalam membedakan stratifikasi sosial mereka. Ukuran mereka, dengan memiliki tanah seluas tiga hingga empat hektar, memiliki rumah tiga, memiliki sapi minimal enam ekor, menandakan mereka adalah keluarga dengan ekonomi kuat. Sedangkan keluarga yang menjadi penggarap tanah persil (tanah milik perhutani), memiliki 2 hingga empat ekor kambing, menandakan bahwa mereka tergolong keluarga ekonomi lemah. Ekonomi lemah dan ekonomi kuat inilah yang nantinya menjadi penentu dalam perjodohan anak-anak mereka ke jenjang perkawinan.

Ekonomi Kering di Lereng Gunung Tegaldowo

Masyarakat Tegaldowo pekerjaannya adalah petani. Secara umum lanscap dearah Tegaldowo adalah perbukitan. Produk tani yang dihasilkan yaitu jagung, padi, ketela pohon, tales, dan sedikit buah pisang. Dahulu, kelapa menjadi tanaman endemik di daerah ini. Namun tanaman kelapa menjadi langka, setelah terkena virus kelapa yang diyakini berasal dari kawasan Blora. Ragam polowidjo yang dihasilkan di bumi Tefaldowo yaitu kacang hijau dan kacang tanah. Adapun tales (mbothe atau enthik) menjadi tanaman endemik di daerah ini hingga saat ini.

Selain pertanian, sumber ekonomi masyarakat Tegaldowo yaitu ternak sapi dan kambing.  Ayam dianggap tidak ternak, karena pemilik ayam tidak memberi makan. Tiap-tiap rumah memiliki sapi antara dua ekor hingga tujuh ekor. Sapi menjadi ukuran kekuatan ekonomi masyarakat Tegaldowo. Adapun keluarga dengan derajat ekonomi lemah, ternak kambing menjadi pilihan. Keluarga dengan ekonomi lemah lebih memilih ternak kambing. Selain kambing relatif cepat dalam budidayanya, sewaktu-waktu kambing dapat dijual untuk mencukupi kebutuhan makan keluarga.

Pada hari senin dan kamis, hasil tani dijual kepada pedagang dacin. Pedagang dacin yaitu pedagan yang membawa dacinan (timbangan) yang bertempat di perempatan jalan desa Tegaldowo. Pedagang ini sengaja menjemput petani yang hendak menjual hasil taninya ke pasar.

Keseharian masyarakat Tegaldowo ditentukan oleh keadaan musim. Pada musim kemarau, mereka mencari rumput untuk tenak sapi. Sedangkan pada musim hujan, mereka bergegas menggarap sawah untuk ditanami padi.

Adapula warga Tegaldowo mencari rencek. Rencek yaitu kayu dari hutan yang digunakan untuk bahan api untuk memasak. Biasanya, rencek dijual di warung makan, dibeli perorangan, hingga di jual di daerah-daerah sekitar.Selain petani, jenis pekerjaan masyarakat tegaldowo yaitu pedagang, sembako.

Berlomba Cari Menantu

Orang tua dari kalangan ekonominya mampu kuat, saling berlomba mendapatkan menantu dari kelas ekonomi yang sama. Orang tua dalam tiap-tiap keluarga saling menyelamatkan harta dengan cara menikahkan dengan pasangan yang dianggapnya sepadan atau lebih dari mapan. Bagi mereka yang ekonominya mapan, sejak dini orang tuanya menjodohkan anaknya dengan calon pasangannya yang sepadan. Tiap-tiap keluarga yang ekonominya mapan berkeinginan melangsungkan pernikahan anak-anaknya dengan segera. Bagi orang tua yang memiliki anak laki-laki dan ekonominya mampu, dijamin akanya akan mendapatkan banyak tawaran dari orang tua yang memiliki anak perempuan, menjadi besan. Besan (baca seperti membaca bebek) yaitu status hubungan orang tua yang anak-anaknya saling diikat dengan tali pernikahan. Pernikahan dini tidak menjadi soal, apalagi syarat pernikahan dalam hal umur, diperjualbelikan. Dalam hal keputusan nikah, orang tua menjadi pengatur, adapun anak wajib mematuhi kesepakan kedua orang tua pasangan yang akan dinikahkan.

Menikah Hanya Seminggu

Pada umumnya pasangan pernikahan pada usia anak  di Tegaldowo, tidak harmonis. Pasca melangsungkan pernikahan, pasangan suami istri ini saling menghindar dan belum sempat hubungan badan. Terdapat kecenderungan, pasangan pengantin baru ini hanya mampu bertahan sekitar dua hingga tiga hari, itupun keduanya tidak saling menyapa. Usia perkawinan paling lama pada umumnya adalah satu minggu (masyarakat menyebutnya selapan). Selapan yaitu istilah jangka waktu orang jawa selama enam hari.
EKOFEMINISME: Atasi Darurat Gender dan Ekologi di Indonesia

EKOFEMINISME: Atasi Darurat Gender dan Ekologi di Indonesia



A.      Pendahuluan

Makalah[1] ini merupakan review buku yang berjudul “Feminist Thought[2]” edisi dua[3]. Buku tersebut memuat suatu diversitas isme tentang feminis[4]. Buku ini dapat dibilang suatu telaah komprehensif tentang feminisme lintas perspektif.

Buku “Feminist Thought” edisi kedua ini memuat delapan bab diantaranya; Feminisme Liberal, Feminisme Radikal: Libertarian dan Kultural, Feminisme Marxis dan Sosialis, Feminisme Psikhoanalitik dan Gender, Feminisme Eksistensialis, Feminisme Posmodern, Feminisme Multikultural dan Global, serta Ekofeminisme.

Tong (1998) cukup cerdas dalam memetakan keragaman pemikiran tentang feminis. Beragam mazhab feminis mulai dari liberal, radikal, marxis, sosialis, psikoanalisis, eksistensialis, posmo, multikultural, ekologi, hingga feminisme poskolonial dan third-wave feminism (khusus dalam buku edisi tiga) tak lepas dari perhatiannya. Pemetaan mazhab feminis oleh Tong (1998) tampak jelas telah menggandeng teori-teori yang telah mapan sebelumnya. Mungkin saja, penulis (Tong) ingin menginjeksikan gerakan feminis pada berbagai pengikut teori-teori sosial di muka bumi ini. Suatu keinginan ambisius namun bermaksud mulia. Sekilas tentang pemetaan mazhab feminis oleh Tong, sebagai berikut.

B.      Feminisme dalam Keragaman Pemikiran

Tiap-tiap mazhab feminis memiliki kekhasan dalam memandang opresi (penindasan terhadap perempuan), termasuk juga bagaimana tiap-tiap mazhab feminis itu dalam memberi solusi dalam menentang opresi.

Feminis liberal berpandangan bahwa subordinasi terhadap perempuan terjadi karena ada suatu set budaya dan hukum yang membatasi akses dan suksesnya perempuan. Pengikut feminsime liberal berjuang untuk menghapus set budaya dan hukum opresif terhadap perempuan, dan menjadi agen dan aktor untuk menciptakan set budaya dan hukum yang membebaskan perempuan. Berbeda lagi dengan feminsime radikal[5], kelompok ini yakin, opresi  terjadi berakar dari sistem sex (kodrati) yang kemudian menciptakan bangunan gender (konstruksi sosial terhadap laki-laki dan perempuan).

Lain halnya dengan feminisme marxis. Kaum feminis marxis berpandangan, opresi terhadap perempuan karena lebih pada klasisme. Feminis marxis meyakini, ketertindasan perempuan karena penguasaan kelas sosial (domain produksi ekonomi) didominasi oleh kaum laki-laki. Kaum feminis marxis kemudian menuntut nilai ekonomi yang setara bahkan di atas laki-laki, sebagai gerakannya. Namun pandangan ini dikritik sebagai pemicu keretakan keharmonisan keluarga oleh feminisme kultural. Hal ini disebabkan adanya orientasi material yang ditanamkan dalam diri perempuan.

Pandangan berikutnya adalah feminisme sosialis. Feminis ini meyakini bahwa opresi terhadap perempuan lebih disebabkan pada kapitalisme. Dimana opresi perempuan bukan hasil tindakan individu melainkan produk dari struktur politik, sosial dan ekonomi, tempat dimana seorang individu hidup.

Aliran pemikiran berikutnya adalah feminisme psikoanalisis-gender. Aliran ini  berpandangan bahwa ketertindasan perempuan berakar dari pengalaman psikis pada masa kecil, dimana perempuan telah terkonstruksikan rendah. Feminis psikoanalisis-gender ini menfokuskan pada proses sosialisasi, internalisasi, dan enkulturasi tentang pemaknaan perempuan pada proses awal pengasuhan anak itu sendiri.

Jika psikoloanalisis gender menitikberatkan pada pengalaman psikis masa kecil, lain lagi dengan feminisme eksistensialis. Feminisme eksistensialis berpandangan bahwa opresi terhadap perempuan dikarenakan adanya keinginan laki-laki yang selalu ingin menjadi subjek eksis, yang menguasai other (perempuan).

Posmo dan multikultur pun tidak lepas dari perhatian Tong (penulis). Tong juga menguraikan dua aliran feminis ini. Feminisme postmodern diartikan Tong (1998) sebagai suatu gagasan dimana ide tentang opresi terhadap perempuan di era modern  menjadi penyebab, maka perlu ditinggalkan (pascamodern). Sedangkan feminisme mutikultural dan global diartikan sebagai suatu gagasan yang berpandangan bahwa untuk menghilangkan opresi terhadap perempuan dengan cara saling memberikan ruang (mengakomodasi) kelompok-kelompok kecil (anggapan tentang perempuan) dan dengan cara menjalin keterhubungan opresi lokal. Dan yang terakhir (versi buku edisi dua)adalah ekofeminsme. Mazhab feminis ini berpandangan bahwa opresi terhadap perempuan diyakini memiliki memiliki keterkaitan yang kuat, tentang cara pandang manusia terhadap alam.

C.      Fokus Telaah

Dalam makalah ini hanya mereview bab tujuh, tentang ekofeminisme. Ekofeminisme merupakan aliran pemikiran feminis yang menitikberatkan pada keterhubungan akan ekologi dan perempuan.

Review bab ekofeminisme ini menjadi urgen disaat nature (alam/perempuan) sebagai pelayan manusia (kaum laki-laki) untuk mendulang status, kedudukan, dan peranan yang superbody[6]. Namun di sisi lain, kondisi nature sedang menangis, tatkala sistem keteraturan ekologi terancam karena tindakan superioritas (kaum laki-laki) secara terstruktur. Dimana dan seberapa kuat peranan dari ekofeminisme dalam menjawab masalah krusial di atas, berikut ulasannya.

Review ini memuat dua bagian. Bagian pertama memuat tentang gagasan ekofeminisme. Bagian kedua memuat peranan ekofeminisme dalam mengatasi krisis gender dan lingkungan, khususnya di Indonesia.

D.      Akar dari Ekofeminisme

Ekofeminsime lahir dari suatu kegelisahan kaum feminis akan cara pandang dan perilaku manusia terhadap nature/alam (perempuan) yang terbukti merusak tatanan ekologis dan menciptakan ketidak-adilan gender, yang kemudian mengancam proses pembangunan dan eksistensi manusia itu sendiri. Kenyataan getir dan pahit yang dirasakan alam saat ini, seakan senafas dengan apa yang dirasakan perempuan. Proses pembangunan yang dilanggengkan dengan eksploitasi sumber daya alam telah menjadi petanda buruk bahwa gagasan penting akan bagaimana manusia berhubungan dengan alam, perlu di-dekonstruksi[7] ulang. Dan menjadi penting, ketika keterpurukan ekologis ini tercipta (tidak kebetulan) pada saat pembangunan didominasi oleh kaum patriarkhal[8].

Aspek fundamental dari cara pandang patriarkhal terhadap alam yaitu adanya obsesi untuk mendominasi dunia, bukan manusia. Layaknya laki-laki mendominasi perempuan. Menurut Warren (lihat halaman 360), modus perfikir yang hierarkhis, dualistik, dan opresif itu telah merusak alam dan perempuan.

Warren ingin menegaskan bahwa cara pandang patriarkhal tentang alam telah mempengaruhi tentang apa itu perempuan. Alam adalah sama dengan perempuan. Perempuan adalah sama dengan alam. Penolakan kaum ekofeminisme terhadap cara pandang patriarkhal yang ingin mendominasi alam, menurut ekofeminisme, sama saja ada pembenaran dalam melanggengkan superioritas laki-laki terhadap perusakan alam dan perempuan dengan rencana yang matang.

Menurut Ruther, dalam menyikapi dan menanggapi hal di atas, perlu adanya penyatuan gerakan perempuan dengan gerakan ekologis.  Namun perlu hati-hati pula dalam menyikapi masukan Ruther. Ketika perempuan menjadi garda depan dalam gerakan ekologi, jangan-jangan perempuan malah semakin terperosok ke dalam. Jelas, yang gagal adalah laki-laki, kenapa yang mengobati[9] harus prempuan.

Masih mengkritik masukan dari Ruther, lantas bagaimana posisi ekofeminism dalam menghadapi ledakan penduduk yang setiap detik membutuhkan nutrisi dari alam. Jika dalam mengatasi mallnutrisi penduduk dengan mengeksploitasi alam, namun disisi lain kerusakan alam semakin parah, seperti hancurnya psikis perempuan yang dieksploitasi laki-laki. Disinilah awal dillema gerakan ekofeminism. Antara dua pilihan, apakah kematian moral (melanggengkan ekomaskulinism) atau ketidakpedulian moral (mengedepankan pilar-pilar ekofeminism). Berangkat dari dilematika di atas, muncul gagasan untuk alienasi terhadap perempuan dengan  alam, atau sintesa hubungan perempuan dengan alam, atau antitesa hubungan perempuan dengan alam, berikut ulasannya.

E.       Alienasi Terhadap Perempuan dan Alam

Argumen yang mendukung perceraian antara perempuan dengan alam, datang dari Simone de Beauvoir dan Sherry B. Ortner (lihat halaman 367). Simone de Beauvoir berpandangan, agar perempuan tidak terhanyut dalam pusaran patriarkhal, perempuan harus mentransedensi hubungan mereka dengan alam. Perempuan harus bergabung dengan laki-laki dalam berinteraksi dengan alam. Dengan demikian, posisi perempuan sama dengan laki-laki, dan hubungan antara perempuan dengan alam, pisah.
Namun gagasan ini ditolak oleh Plumwood (lihat halaman 370). Menurut Plumwood, bergabungnya perempuan ke dalam ruang laki-laki, perempuan tidak akan mendapatkan kemanusiaannya yang sejati. Plumwood menghawatirkan fungsi reproduksi dan pengasuhan anak yang diperankan oleh perempuan. Kekhawatiran Plumwood juga sering menjadi tudingan kelompok patriarkhal, menuding rusaknya generasi saat ini, akibat perempuan jauh dari pengasuhan anak[10]. Plumwood menambahkan, wanita hanya akan mendapat kesempatan untuk menjadi patner penuh laki-laki dalam kampanye[11] untuk menguasai/ mengendalikan atau mendominasi alam, jika perempuan mentransendensi dirinya ke dalam ruang laki-laki.

Argumen yang mendukung pemisahan hubungan perempuan dan alam, juga datang dari Sherry B. Ortner (lihat halaman 371). Sherry B. Ortner berpandangan, untuk menghilangkan dominasi laki-laki terhadap perempuan, perlu adanya pemaknaan bahwa perempuan dan laki-laki adalah natural-alami. Jika pada mulanya perempuan adalah natural-alami, Ortner memiliki gagasan untuk menyamakan perempuan, dimana laki-laki itu juga natural-alami. Ortner yakin, dengan demikian perempuan bisa menjadi bebas, tanpa harus membebaskan alam. Lantas pertanyaannya, jika ekofeminisme menerima bahwa laki-laki itu juga natural-alami, apakah laki-laki menerima[12] bahwa mereka itu adalah natural-alami. Kegamangan akan gagasan dari Beauvoir dan Ortner, memunculkan gagasan berikutnya, yaitu gagasan untuk menekankan adanya keterhubungan antara perempuan dengan alam.

F.       Sintesa Hubungan Perempuan dengan Alam:
Ekofeminisme alam, ekofeminisme kultural, dan Ekofeminisme spiritual

Gagasan tentang keterhubungan antara perempuan dengan alam, berawal dari Mary Daly dan Susan Griffin. Menurut  Mary Daly, perempuan itu sebagai harapan alam (lihat halaman  376). Daly berpandangan, laki-laki itu jahat, laki-laki hanya merangkul kebudayaan perempuan yang baik (ginosentrik), laki-laki adalah manusia yang parasit, kebudayaan laki-laki adalah tentang penyakit dan kematian, segala bentuk pencemar pikiran (faces) yang berlipat-lipat dari persetubuhan busuk laki-laki yang jatuh cinta pada dunia mati. Perilaku mengeksploitasi alam sama hal dengan perilaku laki-laki dalam menyakiti perempuan.

Pandangan Daly ingin menegaskan bahwa perempuan memiliki kekuatan di atas laki-laki karena perempuan sebagai satu-satunya subjek yang selalu tampil membenahi kerusakan alam.  Jika demikian, berarti pandangan Daly memiliki konsekwensi berat yang harus dipikul perempuan. Dimana perempuan memiliki kewajikan ganda, baik dalam dirinya maupun terhadap alamnya. Jika demikian, dengan sub-ordinat  pada diri perempuan yang berubah menjadi super-ordinat, perempuan malah semakin banyak beban dengan kepedulian moral seperti yang diungkapkan oleh Ruther.

Gagasan keterhubungan antara perempuan dengan alam juga dihadirkan oleh Susan Griffin (lihat halaman 376). Griffin adalah seorang ibu rumah tangga. Griffin berpandangan, perempuan itu mampu membantu keluar dari dunia yang dualistik yang semu dan dualistik yang selama ini membawa perempuan sebagai tawanan dalam jeruji laki-laki. Dengan langkah demikian, menurut Griffin, akan menghancurkan suatu dualisme sesat, dimana laki-laki adalah pikiran, dan perempuan adalah tubuh.

Hal senada juga diutarakan Starhuwk dan Charles Spretnak. Dua tokoh ini menuduh ketidakadilan yang didera perempuan dikarenakan campur tangan agama. Sub aliran ekofeminisme spiritual ini menghubungkan inferiotiras perempuan dengan ajaran Yahudi dan Kristen (lihat halaman 380). Ajaran Yahudi-Kristen disangka memuat kekuasaan Tuhan yang memberikan kekuasaan tunggal manusia dalam mengelola bumi.  Dalam ekofeminisme spiritual, Starhuwk dan Charles Spretnak  sepakat menghubungan perempuan dengan alam yaitu dalam kerangka spiritual bumi, dimana suatu keterhubungan perempuan dan alam itu mampu menciptakan kemakmuran dan ketenangan, seperti perempuan dalam simbolisasinya.

Namun menurut Dorothy Dinnerstein dan Karen J. Warren, berpendapat untuk menghilangkan keterhubungan antara perempuan dengan alam (lihat halaman 384). Dua tokoh ini berpandangan, gagasan menghubungkan antara perempuan dengan alam hanya akan menciptakan subordinasi perempuan terhadap kebudayaan. Subordinasi perempuan terhadap kebudayaan yaitu suatu sistem sosiokultural yang memposisikan perempuan dalam kelas dan status yang paling rendah. Perempuan tidak lagi dianggap menjadi aset kebudayaan yang penting, karena perempuan dianggap lari dari peranan dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial. 

G.     Antitesa Hubungan Perempuan dengan Alam: Ekofeminisme sosial atau Konstruksi sosial dan ekofeminisme Sosialis

Dorothy Dinnerstein dan Karen J. Warren merupakan pemikir yang ber-aliran ekofeminisme sosial.  Ekofeminisme sosial cenderung berpandangan bahwa perempuan dan alam harus dihilangkan akan keterhubungannya.

Jika Dinnerstein berpandangan bahwa perempuan harus mendekonstruksi dikotomi perempuan dan laki-laki, maka Warren berpandangan bahwa wanita harus menghancurkan konstruksi sosial tentang dualisme (perempuan dan alam). Tampak, Dinnerstein dan Warren berseberangan dengan pandangan Daly, Griffin, Starhuwk, dan Spretnak.

Dinnerstein dan Warren dengan jelas menyarankan agar perempuan dalam gerakannya lebih difokuskan kepada penyadaran kaum perempuan akan posisi mereka yang tertindas. Dinnerstein dan Warren dengan jelas menyarankan agar perempuan secara kelompok diharapkan untuk mengadakan konflik dengan kelompok dominan (laki-laki). Semakin tinggi tingkat konflik antara kelas perempuan dan kelas dominan, diharapkan dapat meruntuhkan sistem patriarkhi. Hadir pula gagasan Maria Mies dan Vandana Shiva agar perempuan tidak terhubungkan dengan alam. Mies dan Shiva sepakat, perlu gerakan menghapus hubungan sosial antara perempuan dan laki-laki (lihat halaman 391).

H.     Mengatasi Darurat Gender dan ekologi dalam Sudut Pandang Ekofeminisme

Darurat Gender

Krisis gender dalam makalah ini dimaksudkan untuk menilik tentang pemaknaan laki-laki dan perempuan yang timpang. Dimana perempuan telah ditampilkan menjadi jenis kelamin rendahan, sebaliknya, laki-laki menjadi jenis kelamin atasan. Dalam dimensi gender, sosiokultural-lah yang menjadi mesin produksi krisis gender, yang kemudian melanggengkan paradigma femilis[13]. Isu sentral dari krisis gender dapat dilihat dengan jelas, yaitu pertarungan ranah domestik dan ranah publik.

Domestik dan publik
Ranah domestik acapkali menjadi kata kunci dan identik dengan keterkungkungan kaum perempuan di dalam rumah. Ranah domestik juga telah menjadi pengendali kaum perempuan untuk tetap berdiam diri di rumah dengan pekerjaan berat dan kompleks, namun miskin akan penghargaan, jika ada penghargaan, hanyalah penghargaan semu. Sistem norma yang dituangkan dalam ranah domestik adalah kaku, tidak boleh dilanggar, dan jika dilanggar, maka perempuan akan dihukum oleh lembaga sosial dan hukum yang berkuasa (patrialkhal). Jika perempuan masih tetap melanggar, maka eksistensi (semu) perempuan akan terancam hingga tersingkir dari pusaran kekuatan sosiokultural.

Sedangkan ranah publik merupakan ranah diluar rumah yang menjadi pemilik sah kaum laki-laki. Ranah publik juga diartikan sebagai ruang bebas tanpa kendali untuk kaum laki-laki. Ranah inilah (menurut feminis) yang menciptakan sistem sosial dan hukum, untuk harus bagaimana laki-laki harus bertindak dengan bebas.

Berpedaan tajam itulah yang kemudian disebut sebagai ketimpangan gender. Ketika ketimpangan gender ini berlarut-larut, maka yang tercipta adalah ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender yaitu suatu realitas sosial yang mana salah satu jenis kelamin dirampas[14] hak kodrati, hak sosial, dan hak kultural, oleh jenis kelamin lainnya.

Ketika ketimpangan gender ini dipuja-puja layaknya sistem spiritual (suci), hingga terdapat perlawanan antar pihak (feminis vs maskulis, atau sebaliknya), atau bahkan mencapai titik penghilangan keduanya, maka yang terjadi adalah darurat gender. Puncak dari darurat gender yaitu suatu masa dimana dimensi ruang dan waktu dimuka bumi ini cenderung menghilangkan kemuliaan dari manusia itu sendiri.

Kembali kepada konsep ekofeminsime, bahwa ketimpangan hingga ketidakadilan gender dituding sebagai ekses dari cara pandangan nature dari manusia di muka bumi. Naturalisme yang menciptakan kultur superiorotas yang opresi, kemudian berdampak panjang pada penciptakaan ketidakadilan sexisme. Ada tiga penting yang ditawarkan oleh ekofeminisme dalam menyelesaikan masalah ketidakadilan gender. Pertama,  pendapat yang menghubungkan perempuan dengan alam. Aliran ini didukung oleh ekofeminisme kultural dan spiritual. Aliran ini berpandangan, dengan menghubungkan perempuan dengan alam, perempuan akan mendapatkan status dan posisi tinggi dan mulia karena parempuan memiliki fungsi nature untuk membangun kultur. Secara struktur fungsional, pandangan ini memang membawa perempuan pada peranan penting yang tidak tergantikan oleh laki-laki. Hanya saja, aliran ini tidak akan mengangkat perempuan dalam kubangan opresi dan dampak negatif yang harus dipikul oleh perempuan dari realitas sosial yang patrialkhal.

Kedua, pendapat yang memisahkan hubungan antara perempuan dengan alam. Memisahkan merupakan gerakan menolak keterhubungan antara perempuan dengan alam. Aliran pemikiran ini cenderung diperankan oleh feminis sosial. Langkah yang ditempuh yaitu melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi gender yang menciptakan ketidakadilan pada diri perempuan. Aliran untuk memisahkan cara pandang alam dengan perempuan ini, dengan cara radikal dan liberal, atau sosial transformatif.  Hingga jalan konflik, saling berhadap-hadapan dengan kelompok lawan, juga dilakukan.

Ketiga, pendapat yang tidak menghubungkan antara perempuan dengan alam.  Aliran ini berpandangan bahwa antara alam dan perempaun, tidak ada hubungannya. Dua hal yang menjadi pisah tanpa penghubung. Dengan pandangan ini, perempuan menjadi manusia bebas, mandiri, dan tidak teropresi, begitu juga dengan laki-laki.

Lantas pandangan apa yang tepat untuk menyelesaikan ketidakadilan perempuan, khususnya di keluarga anda (khusus) dan di Indonesia (umum)? Kami mengembalikan wacana dan pilihan ini kepada para pembaca yang mulia.
Darurat Lingkungan

Hubungan perempuan dengan alam

Mengusung pemberdayaan perempuan dalam rangka mengatasi krisis lingkungan, tentu tergolong sebagai tindakan mulia. Dari sudut pandang manusia, perempuan akan lebih bernilai tinggi dibandingkan mahluk yang lain. Terlebih dalam hal membangun generasi yang sadar akan kelestarian lingkungan. Perempuan menjadi titik kunci dalam hal mensosialisasikan usaha pelestarian lingkungan terhadap anak-anaknya. Dalam perspektif fungsional, tampak jelas potensi perempuan dalam menjaga alam.

Namun disisi lain, perempuan tetap dan akan menjadi subordinat, inferior, dan opresi, karena beban yang ditanggung perempuan semakin kompleks. Disisi menjadi agen dalam melestarikan alam, permasalahan mendasar tentang bagaimana pandangan laki-laki terhadap perempuan bahwa perempuan itu perlu dieksploitasi, semakin mapan. Dengan demikian, ekofeminisme tidak lagi menjadi instrumen dalam membebaskan perempuan dari beban komplek, namun sebaliknya.

Hubungan laki-laki dengan alam

Lantas siapa yang menjadi agent dalam pelestari alam? Bagaimana dengan peran laki-laki dalam melestarikan alam? Mungusung pemberdayaan laki-laki dalam rangka mengatasi krisis lingkungan, tentu saja sebagai tindakan mulia. Konsekwensi dari pandangan ekomaskulinisme akan membuka tabir opresi terhadap perempuan, menjadi mulia. Karena pandangan tersebut bermakna bahwa yang berkewajiban melestarikan alam adalah laki-laki, bukan perempuan. Namun cara pandangan ini, berdampak pada penghujatan perempuan yang lari dari tanggung jawab lingkungan. Perempuan pada akhirnya akan dibuang jauh-jauh, bahkan akan menjadi momok bahwa perempuan tiada guna dihadirkan di dunia, perempuan perlu di bunuh dari muka bumi.

Memisahkan hubungan perempuan dan laki-laki dengan alam

Jika tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam melestarikan alam, tidak ada titik temu akan pihak mana yang bertanggung jawab, maka perlu ada subjek lain yang harus memerankan diri dalam melestarikan alam dari krisis lingkungan. Siapakah itu? Tentu mahluk hidup selain manusia, misalnya hewan. Hewan (selain manusia) harus bertanggung jawab dalam mengatasi krisis lingkungan. Namun kenyataannya, manusia malah merusak hewan (herbivorism, carnivorism, dan omnivorism), bahkan antar manusia itu sendiri saling merusak (kalibalisme). Dengan demikian, ide memisahkan perempuan dan laki-laki dengan alam, bukanlah logis. Lantas siapa lagi? Setelah konsep ekoanimalism tidak tepat, bagaimana dengan konsep ekodinamism? Dimana yang berkewajiban melestarikan lingkungan adalah para roh nenek moyang dan lelulur manusia yang sudah mati. Tentu saja, ekodinamism harus membangun berbagai roh nenek moyang dari kutup satu ke kutup lainnya, untuk diberdayakan dalam membangun kelestarian alam ini. Namun perspektif ini malah akan me


I.        Penutup

Dengan adanya aliran yang berbeda dalam ekofeminisme diatas, maka jalan keluar dari situasi krisis gender dan ekologi yang terjadi di Indonesia dengan menciptakan kebudayaan yaitu membuat suatu kesepakatan  tanggungjawab yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam usaha pelestarian alam.

Belajar dari kaum feminis, dengan akal, pikiran dan aktualisasi diri maka kita berupaya berhenti menghancurkan ekologi sekaligus menciptakan ketata-adilan gender, yang berarti berhenti menghancurkan diri kita sendiri, seperti ekofeminis transformatif-sosialis dengan merevolusi, dan mentranformasi alam.

Meminjam Fakih (2001:163-164), untuk mewujudkan keadilan gender (manusia yang memanusiakan manusia) perlu dikembangkan gender sensitivity training. Fakih menambahkan, yang perlu dilakukan adalah melakukan research feminish dan feminist of the law.

Sumber Tulisan

Tong, Rosemarie Putnam. 1998. Feminit Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis. (Terjmh). Yogjakarta: Jalasutra.
Abdullah, Irwan. 2003. Sangkan Paran Gender. Yogyakarta. Pusat Kependudukan UGM
Fakih, Mansour. 2001. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogjakarta: Pustaka Pelajar


[1] Makalah ini disampaikan dalam diskusi kelas pascasarjana Pendidikan IPS Unnes pada mata kuliah Perspektif Gender. Mata kuliah ini diampu oleh Prof. Dr. Tri Marheni, M. Hum. Anggota kelompok terlibat aktif dalam pengerjaan makalah ini diantaranya; Suhadi Pekalongan, Woro Kris Pati, Uji Catur Tegal, Ainun Nadiroh Cirebon, Munji Hasan Pekalongan, dan Suhadi Rembang.
[2] Tong, Rosemarie Putman. 1998. Feminis Thought: Pengantar paling komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Edisi Ke-dua. Aquarini Priyatma Prabasmoro (Penerj). Yogyakarta. Jalasutra.
[3] Pada saat ini telah terbit edisi ke tiga, namun belum dialih bahasakan ke dalam Bahasa Indonesia. Walaupun jumlah bab tetap sama, namun dalam edisi terbarunya terdapat tambahan isi, mengenai feminisme poskolonial dan third-wave feminism.
[4] Feminisme berbeda dengan gender. Feminisme yaitu suatu gagasan untuk memerdekaan perempuan dari kungkungan dan jeratan kodrat dan konstruksi sosiokultural. Sedangkan gender yaitu suatu sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan karena dikonstruksikan secara sosial dan kultural. Bisa berubah dari waktu, tempat, dan budaya yang berbeda, serta dapat dipertukarkan.
[5] Feminisme radikal terbelah menjadi dua, yaitu feminisme libertarian dan feminisme kultural. Libertarian menawarkan androgini, sedangkan kultural menolak androgini.
[6] Laki-laki disebut-sebut sebagai mahluk superbody, merupakan hasil konstruksi sosial budaya pada masyarakat patrialkhal. Dewasa ini, superbody juga digunakan dalam menyepadankan kedudukan KPK (suatu lembaga edhoc Komisi Pemberantasan Korupsi) di Indonesia.
[7] Menurut Abdullah, Irwan (2003) dekonstruksi merupakan salah satu dari tiga proses sosial (konstruksi, dekonstruksi, dan rekonstruksi) dalam pembentukan realitas perempuan yang menitikberatkan pada keabsahan realitas (objektif) kehidupan perempuan dipertanyakan yang kemudian memperlihatkan praktik-praktik baru di dalam kehidupan perempuan. hal, 5.
[8] Agen dan aktor pembangunan, relatif diperankan oleh laki-laki. Jika ada perempuan, itupun jumlahnya tidak seimbang, dan perempuan, relatif berperan bukan di garda depan pembangunan. Perempuan yang mampu aksi di ranah publik, relatif berstatus menjadi peran pembantu. 
[9] Salah satu bentuk dari perubahan sosial adalah perubahan yang direncanakan. Perubahan terencana merupakan perubahan yang telah didesain siapa yang menjadi agen dan aktor pembangunan, termasuk siapa yang menjadi korban dalam suatu proses perubahan sosial. Namun menjadi masalah kemudian, ketika perempuan selalu dijadikan sandaran (penyebab salah) ketika terjadi kegagalan dalam proses perubahan (pembangunan).
[10] Hijrahnya perempuan dari ranah domenstik ke ranah publik, ternyata meninggalkan kritik tajam kepada perempuan itu sendiri. Ideologi familialisme telah mengakar kuat dengan adanya sistem sosial dan hukum yang selalu mengontrol perempuan, agar perempuan tetap tuntuk kepada sistem patriarkhal. Padahal aksi perempuan di ranah publik, telah menjadi beban ganda terhadap tanggung jawab sosial pada pundak perempuan (lebih jelasnya, baca Abdullah, Irwan, 2003, hal: 3-30.
[11] Perempuan hanya menjadi alat untuk kekuasaan patrialkhal, dapat dilihat partisipasi perempuan dalam pemilu. Dalam daerah pemilihan yang diperebutkan calon legislatif, perempuan selalu mendapatkan urutan terakhir. Jelas, suara cari calon legislatif perempuan, hanya mendongkrak calon legislatif pada urutan awal. Lagi-lagi kebijakan kesetaraan gender, perempuan hanya menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan patrialkhal. 
[12] Realitas sosial menjawab, lak-laki selalu menciptakan rekayasa sosial, untuk mempersiapkan kelas dan peran sosial di arena kekuasaan.
[13] Femilis yaitu suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu cara kelompok sebagai pendukung ideologi familialisme. Adapun familialisme yaitu suatu faham yang berpandangan bahwa perempuan itu harus bertanggung jawab akan suatu tatanan keluarga. Berbagai masalah keluarga (cerai, dekandensi moralitas anggota keluarga, hingga disharmoni), laki-laki selalu menuding bahwa itu adalah salah perempuan. Lihat Abdullah, Irwan (2003) hal: 6.  
[14] Pada dasarnya realitas ketidakadilan gender dapat menimpa perempuan dan laki-laki. Lembaga sosial dan hukum yang didominasi patrialkhal, relatif mengorbankan perempuan. Sebaliknya, jika lembaga sosial dan hukum di dominasi matrialkhal, relatif mengorbankan pihak laki-laki. Namun pada saat ini, ketidakadilan gender mendera pihak perempuan.