Galery

Galery
Instrumen Penelitian Rempah-Rempah

Instrumen Penelitian Rempah-Rempah

Siswa sedang penelitian rempah-rempah di pasar tradisional (foto: suhadi, 2017

PENGANTAR

Gunakan pedoman wawancara penelitian bumbon/ rempah-rempah ini untuk mengeksplor pengetahuan dan pengalaman para penjual di Pasar Tradisional dan penjual bumbon Rumahan tentang bumbon/ rempah-rempah. Dalam wawancara, gunakan bahasa yang sesuai dengan lokalitas. Selanjutnya kembangkan pedoman wawancara ini secukupnya. Ingat, tetap sopan dalam wawancara, kenalkan diri dan sampaikan tujuan anda. Dan jangan lupa, belilah bumbon/ rempah-rempah dan juga ucapkan terimakasih se-usai wawancara. Muliakanlah informan !!!

IDENTITAS INFORMAAN

Siapa nama penjualnya?
Dimana tempat lahir dan berapa tanggal bulan dan tahun lahirnya?
Berapa umurnya sekarang?
Dimana ia tinggal?
Pekerjaan sambilan apa yang ia miliki?
Pernah sekolah dimana saja dan kapan lulusnya?

ASAL USUL MENJADI PENJUAL BUMBON

Sejak kapan mengenal bumbon?
Dalam mengenal bumbon, dikenalkan oleh siapa? Apakah oleh orangtuanya atau oleh temannya atau oleh yang lainnya?
Sejak kapan jualan bumbon?
Mengapa tertarik menjadi bakul bumbon, kok tidak yang lainnya?
Dengan siapa jualan bumbon di pasar ini?
Berapa modal pertama kali menjual bumbon?

ALUR KULAKAN BUMBON

Dari mana bumbu itu didapatkan?
Apakah kulakan dari tengkulak atau hasil bumi sendiri?
Jenis bumbon apa saja yang selalu gampang dikulak?
Jenis bumbon apa saja yang susah di kulak?
Jenis bumbon apa yang kulakannya paling murah?
Jenis bumbon apa saja yang kulakannya paling mahal?

TENTANG BUMBON

Bumbon apa saja yang dijual?
Berapaan harga bumbu-bumbu yang ada?
Bagaimana bentuk dan ciri-cirinya?
Bagaimana cara mengetahui kualitas bumbu?
Bagaimana cara mengetahui bumbu yang baik?
Bagaimana cara mengetahui bumbu yang jelek?

PEMBELI BUMBON

Jenis bumbon apa yang laris dibeli?
Jenis bumbon apa yang tidak laris?
Siapa saja yang membeli?
Berapa harga bumbon itu di jual?
Untuk pembeli bakul rumahan, beli bumbu apa saja? Dan berapa jumlah yang dibeli?
Untuk pembeli rumah tangga, bumbu apa saja yang dibeli? Dan berapa jumlah yang dibeli?

FUNGSI BUMBON 

Biasanya digunakan untuk apa bumbu itu?
Jenis bumbon apa saja yang digunakan untuk masakan?
Jenis bumbon apa saja yang yang digunakan untuk obat-obatan? Baik untuk obat sakit manusia ataupun obat sakit untuk hewan ataupun obat untuk hama tanaman.
Apa saja jenis bumbon yang digunakan untuk perlengkapan sesaji?

(PERTANYAAN TAMBAHAN PENDALAMAN) 

Jenis bumbu apa yang menjadi ciri khas masakan? Misal masakan soto, itu bumbu khasnya apa?
Jenis bumbu apa saja yang menjadi ciri khas masakan.....? dst
Jenis bumbon apa menjadi ciri khas untuk obat-obatan? Misal obat batuk, itu bumbu khasnya apa? Apa jahe, apa cengkih? Atau apa saja.
Jenis bumbon apa saja yang menjadi ciri khas obat.....? dst
Jenis bumbon apa saja yang menjadi ciri khas untuk obat sakit hewan? Misal sapi yang perutnya kembung, wedus gudiken, dll.
Jenis bumbon apa saja yang menjadi ciri khas untuk obat hama tanaman?
Jenis bumbon apa yang menjadi ciri khas sesaji? Misal sajen sedekah bumi, itu menggunakan bumbu apa?
Jenis bumbon apa saja yang menjadi ciri khas sesaji ini dan itu .....? dst

(Pertanyaan Tambahan Pendalaman Mendalam)

Masakan apa saja yang khas disini?
Bumbon apa saja yang diperlukan?
Bagaimana cara masaknya?
Apakah masakan itu dimasak untuk orang tertentu?
Dimakan pada saat apa masakan itu?
Apakah ada pesan khusus jika makan masakah itu, kemudian dapat ini dan itu?
Rempah herbal apa saja yang khas disini?
Apakah dalam bentuk minuman rempah atau sajian rempah?
Rempah apa saja yang diperlukan?
Bagaimana cara meraciknya?
Apakah itu diracik untuk orang tertentu?
Digunakan pada saat apa rempah obat itu?
Apakah ada pesan khusus jika telah mengkonsumsi obat rempah itu , kemudian akan sehat ini dan itu?
Sajen apa saja yang sering dibuat dengan bumbon?
Bumbon apa saja yang diperlukan?
Bagaimana cara membuatnya/merangkainya?
Jenis sajen apa saja yang dibuat dengan berbahan rempah?
Apakah ada sajen untuk penghalau sakit?
Apakah ada sajen untuk penghalau mahluk halus?
Apakah ada sajen untuk penghalau marabahaya/ bencana?
Apa ada makna lain dari sajen yang di buat itu?

***
Keterangan: 

Adalah Instrumen kunjungan lapangan ke pasar tradisional untuk siswa kelas sepuluh jurusan ips mapel sosiologi. Instrumen ini dipergunakan untuk skala terbatas dalam menyusun Produk Siswa dalam bentuk artikel dengan tema KD “Melakukan kajian, diskusi, dan menyimpulkan konsep-konsep dasar Sosiologi (norma sosial, interaksi sosial, dan kelompok sosial) untuk memahami hubungan sosial antar individu, antara individu dan kelompok serta antar kelompok”.
Bumbon dan Bumbu-bumbu Dalam Penelitian

Bumbon dan Bumbu-bumbu Dalam Penelitian

Situasi pasar tradisional Foto. Suhadi, 2017
Pagi ini saya sangat bersyukur. Bahwa dapat berkunjung di pasar bersama para siswa. Selain itu, ketar-ketir diri telah menjadi makplong disaat para siswa dengan luwes dapat wawancara bersama para pemulia bumbon pasar.

Saya pun semakin percaya bahwa anak-anak sekarang itu lebih pinter dalam suatu hal dibanding gurunya. Pagi tadi saya melihat dan membuktikannya. Yaitu satu masalah strategi penelitian dapat terpecahkan olehnya.

Awalnya saya cukup yakin bahwa dengan teknik membeli bumbon, wawancara mereka dapat berjalan lancar. Namun ternyata tidak semudah itu. Para bakul dan pembeli bumbon rumahan pagi tadi berdesakan. Pemulia bumbonpun kewalahan ketika harus melayani para siswa utk wawancara seputar alur dan fungsi bumbon utk masakan, obat herbal, hingga sesajen.

Hal menarik benar-benar terjadi. Mereka cukup sigab dalam membaca situasi dan setting latar lokasi. Para pemulia bumbon yg sebagian besar melayani sendiri, telah menjadi peluang para siswa pagi tadi. Apa yang terjadi? Mereka segera menawarkan diri utk membantu pemulia bumbon dalam melayani pembeli. Pada saat itulah, disela-sela membantu melayani, mereka bercakap dg mendalam dengan panduan instrumen wawancara yg telah tersiapkan jauh-jauh hari.

Strategi menyatu dan membantu informan saat penelitian bumbon, telah menjadi pintu pembuka dalam mengeksplor pengetahuan, sikap, dan pengalaman para pemilik bumbon itu. Tak hanya hal bumbon dan alurnya kulakannya, hingga bumbon-bumbon rahasia yg belum mereka kenal sebelumnya, datanya dapat terdokumentasi dengan lengkap. Bahkan disela- sela membantu dan melayani, mereka juga dapat mengeksplor pengetahuan dan pengalaman para pembeli perihal bumbon ini.

Suatu kebanggaan dan rasa syukur kami, bahwa dengan memuliakan suatu hal yg kita teliti, terbukti telah memberi kado spesial dalam mengasah strategi penelitian kami. Inilah sekelumit bumbu-bumbu dalam meneliti bumbon di pasar pagi tadi.

Pamotan, 19 10 2017
SMK Kehutanan Rimba Taruna Sedan Rembang Jawa Tengah

SMK Kehutanan Rimba Taruna Sedan Rembang Jawa Tengah

SMK Kehutanan Rimba Taruna di Belajar di Hutan Ngandang Sedan Rembang Jawa Tengah (Sumber Foto:  Exsan 2017)
SMK Kehutanan Rimba Taruna Sedan ber Visi Membangun keunggulan melalui keprigelan, ketelatenan, dan keberhasilan dengan mengedepankan kemandirian dan kreatifitas serta menumbuhkan rasa kejujuran dan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan (Sumber Foto:  Exsan 2017) 

SMK Kehutanan Rimba Taruna Sedan ber Visi Membangun keunggulan melalui keprigelan, ketelatenan, dan keberhasilan dengan mengedepankan kemandirian dan kreatifitas serta menumbuhkan rasa kejujuran dan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan (Sumber Foto:  Exsan 2017)

SMK Kehutanan Rimba Taruna di Belajar di Hutan Ngandang Sedan Rembang Jawa Tengah (Sumber Foto:  Exsan 2017)
Tahu Diri, Sebuah Aset Bangsa Yang Terpinggirkan

Tahu Diri, Sebuah Aset Bangsa Yang Terpinggirkan


Harus hati-hati ketika bermain-main dengan ideologi negara. Barang satu ini cukup sensitif. Apalagi relasi ideologi cukup terbuka dengan eksistensi NKRI. Salah sentuh saja, tanah dan rakyat menjadi taruhannya.

Sekarang, 01 Juni, tepat peringatan lahirnya ideologi negara Indonesia, Pancasila, dibumikan kembali. Terlepas kontroversi tepat tidaknya waktu peringatannya, hari ini adalah momentum paling yahut dalam mendedahkan kembali pentingnya merajut kembali ideologi kita dalam berbangsa dan bernegara. Apapun ekspresi peringatannya, mulai dari upacara, tumpengan, diskusi, hingga sarasehan di warung kopi hingga di panggalan ojek, kita sebagai warga negara Indonesia patut mengapresiasi dan menghormatinya. Ekspresi peringatan ini adalah bentuk nyata dalam merawat bangsa dan negera Indonesia. Semua elemen masyarakat dan kelompok sosial harus memuliakannya.

Selaku warga negara Indonesia, kita patut sangat berterimakasih kepada para Tokoh Bangsa, para Pejuang pembela tanah air, hingga para guru kita. Melalui mereka yang Terhormat, kita sungguh merasakan hidup cinta damai di negeri Indonesia tercinta. Atas nama kedamaian dan ketenangan hidup di Nusantara ini, tugas kita tak lain adalah merajut dan merawat kembali, rasa berbangsa dan bernegara Indonesia.

Perihal dinamika yang terjadi baru-baru ini, patut kita merenung terhadap perilaku saudara-saudara kita yang disangka berlawanan dengan ideologi Pancasila.  Siapapun dan apapun yang berada di Indonesia,  harus tahu diri. Keberadaan kita, termasuk pikiran sikap dan perilaku kita, tidak dapat lepas begitu saja dengan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan momentum hari lahir Pancasila, Ideologi Pancasila harus kita pandang menjadi satu kesatuan, bukan sebuah ideologi terpisah. Ideologi Pancasila adalah kesatuan Indonesia itu sendiri. Sehingga memisahkan Pancasila sama halnya dengan sadar memisahkan bangsa Indonesia.

Pemerintah, partai politik, dan kelompok sosial lainnya harus tahu diri. Pancasila adalah milik Indonesia. Tidak elok jika Pancasila dijadikan komoditas politik. Semua instrumen bangsa ini harus tahu diri, bahwa peranan kita adalah mewujudkan cita-cita bangsa Indoensia, yaitu masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Apakah peranan kita telah mewujudkan keadilan Indonesia? Apakah peranan kita juga telah mewujudkan kemakmuran Indonesia? Dua pertanyaan ini harusnya menjadi bahan renungan dalam momentum peringatan hari lahir Pancasila.
Kita tidak akan selesaikan menjadi bangsa yang dewasa, jika pikiran sikap dan laku kita hanya dengan bermain-main dengan ideologi negara. Entah apa yang terjadi, jika pemerintah, partai politik, dan kelompok sosial selalu meributkan Pancasila. Pemerintah, partai politik, dan kelompok sosial harus tahu diri bahwa peranannya adalah mewujudkan keadilan dan kemakmuran bangsa Indonesia.

Pemerintah tidak boleh anti kritik terhadap capaian keadilan dan kemakmuran. Partai politik tidak boleh serampangan dalam menyusun instrumen keadilan dan kemakmuran. Begitupun dengan kelompok sosial, harus hati-hati dalam menyiapkan generasi yang akan datang, dalam memahamkan sikap kebangsaan dan ke-Indonesiaan.

Momentum perayaaan hari lahir Pancasila ini harus kita sikapi dengan ekspresi tahu diri. Janganlah kita pinggirkan sikap tahu diri kita, karena sesuatu yang tidak jelas. Subtansi perayaaan hari lahir Pancasila adalah dua. Pertama, apakah kita sudah berperilaku mewujudkan keadilan sosial. Kedua, apakah kita sudah berperilaku mewujdukan kemakmuran sosial. Kalau belum, kita harus malu.

Selamat hari lahir pancasila
Selamat mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia
Salam Adil, Salam Makmur.

Sumber: Kompasiana 
Mengintip Resistensi Jajan Pasar

Mengintip Resistensi Jajan Pasar

Serabi Jawa, setia menanti kedatangan para penikmatnya (Sumber foto: www.rembangtv.com)
Jajan pasar,  bak mutiara yang tersembunyi di pasar tradisional. Sejak dahulu, hingga sekarang, jajan pasar tetap menjadi pesona yang tidak tergantikan. Muka boleh berubah keriput, ruang boleh berpindah tempat, hingga mata uang bebas beralih nilai, namun jajan pasar tetap jajan pasar. Ia tetap menjadi primadona bagi penikmatnya. Nuansa kehangatan, akrab, dan keceriaan tetap terpancarkan dari rona jajan pasar. 

Jajan pasar memiliki dua barisan penikmat. Para Penjaja kerap kali terpikat dengan citarasa jajanan maknyus ini. Inilah barisan penikmat fisik. Selanjutnya adalah mereka yang menggunakan jajan pasar untuk instrumen sesaji dengan harap mendapat keselamatan Sang Pencipta, adalah barisan penikmat simbolik. Dua penikmat ini saling berdampingan dengan harmoni tanpa sekalipun saling sindir apalagi merendahkan jajan pasar itu sendiri.

baca selanjutnya... 
Butik Najma Lasem

Butik Najma Lasem

Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi yang menjadi bagian budaya asli Indonesia. Dengan nilai seni tinggi, di bidang busana itulah, sejak 2 Oktober 2009, UNESCO telah menetapkan batik menjadi warisan kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Butik Najma, yang beralamatkan di Jl. Soditan, No.09, Lasem
Di Lasem, banyak sekali pengrajin batik yang dikenal dengan batik tulis lasem. Bukan hanya memproduksi sehelai kain batik tulis saja, sekarang para pengusaha batik tulis lasem telah melakukan banyak inovasi terhadap kain batik tulis lasem. Seperti yang dilakukan oleh Juhar Tutik pemilik Butik Najma, yang beralamatkan di Jl. Soditan, No.09, Lasem.

Butik Najma merupakan sebuah toko pakaian yang melakukan inovasi terhadap kain batik. Di Butik Najma inilah Anda akan mendapatkan berabagai macam bahan batik tulis lasem yang disulap menjadi pakaian pria & wanita yang terdiri dari; gamis katun, gamis batik, baju kerja, gamis sutera, gamis haji, dan baju katun. Selain itu juga tersedia T-Shirt, mukena, jilbab yang semuanya dipadukan dengan kain batik tulis lasem. Tak usah khawatir jika Anda butuh kain batik lasem secara utuh, Butik Najma juga menyediakan dengan berbagai pilihan motif.

Semakin spesial, pemilik Butik Najma juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tercatat Butik Najma pernah ikut berpartisipasi dalam berbagai acara sosial dan kebudayaan di Lasem, Pamotan hingga Rembang. Beberapa kegiatan sosial yang didukung oleh Butik Najma diantaranya; Lasem Fest 2014, Santunan Anak Yatim, Program Komputer Pintar dan Baksos Pakaian Hari Raya.

Dengan lokasi yang mudah diakses, yaitu di pusat Kota Lasem atau di sebelah utara Masjid Lasem, Butik Najma sangat pas untuk menjadi tempat kunjungan dan mencari tempat oleh-oleh Batik Tulis ketika Anda  melintas di Lasem. Butik ini juga melayani delivery atau pesan antar jika Anda tidak ingin repot-repot keluar rumah. Anda tinggal pilih motif batik yang akan Anda beli, di alamat website butiknajma.com atau hubungi nomor telepon +6285225404088 dan +6287717333488 jika Anda perlukan. Selamat belanja dan selamat melestarikan warisan budaya bangsa.[ean]

Kontak:
Website           : butiknajma.com
e-mail              : juhartutik@gmail.com
facebook         : Juhar Tutik

twitter             : @butiknajma

(sumber: http://wartarembang.com/butik-najma-lasem/) 
Program Harapan untuk Penguatan Prodi Sosant*

Program Harapan untuk Penguatan Prodi Sosant*

Suasana Seminar Nasional Penguatan Kelembagaan (Doc. Ika Sosant, 2016)
Pada tren saat ini, tiap-tiap sekolah cenderung membutuhkan guru profesional. Guru profesional yang diharapkan adalah guru yang memiliki kompetensi penguasaan materi mata pelajaran yang diajarkan dan memiliki ragam kompetensi pedadogik yang menyenangkan. Dengan dua kompetensi yang dimiliki guru tersebut, pihak sekolah yakin akan berhasil mendongkrak prestasi siswa yang handal. Dengan tren permintaan guru profesional saat ini dan masa depan, tentu lembaga pencetak tenaga kependidikan tidak boleh tinggal diam. Maka dari itu hal yang harus dilakukan adalah rekayasa penguatan tiap-tiap program studi yang ditawarkan.

Menanggapi tren kebutuhan guru profesional pada masa kini dan masa depan nanti, jurusan Sosant Unnes yang memiliki prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi harus memperhatikan dua hal. Pertama, proses perkuliahan harus didampingi oleh para pakar. Kedua, tiap-tiap lulusan harus diuji dan teruji kompetensinya dalam hal pengajaran.

Proses perkuliahan para calon guru Sosant yang didampingi para pakar (dosen berkualitas), tentu akan melahirkan lulusan yang mapan. Sebaliknya, lulusan tidak akan berkualitas jika para dosen tidak memiliki kepakaran dalam mata kuliah yang diajarkan. Untuk bagian ini, kita percaya bahwa jurusan Sosant adalah jurusan yang telah cukup memiliki para pakar dalam proses perkuliahan. Kita juga yakin jurusan Sosant senantiasa menjaga dan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kepakaran para dosen yang mengajar di jurusan.

Begitupun dengan kualitas lulusan yang dilahirkan. Tidak diragukan lagi, jurusan Sosant adalah jurusan yang cukup menarik diperhatikan karena para lulusannya cukup banyak terserap di lembaga pendidikan . Karena lahirnya jurusan ini adalah jawaban dari permintaan guru Sosant yang cukup tinggi, namun di sisi lain terjadi kelangkaan sarjana pendidikan yang berlatar belakang keilmuan yang sama. Dengan itu menjadi alumni jurusan Sosant, tentu patut berbangga hati. Namun demi terjaganya kualitas lulusan, sebagai alumni kita harus tetap memberi kritik dan masukan yang sifatnya membangun kepada jurusan.

Perihal menjaga dan meningkatkan kualitas dosen yang kapasitasnya adalah para pakar, hal itu merupakan ruang kreatifitas pihak jurusan. Adapun pada tulisan ini hanya memfokuskan pada bagian yang kedua, yaitu memberi masukan program agar tiap-tiap lulusan memiliki kompetensi menjadi calon pengajar yang handal.

Berikut ini merupakan harapan program yang kemungkinan dapat diterapkan dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusan prodi di jurusan sosant. Terdapat lima harapan program yang hendak ditawarkan. Lima harapan pragram tersebut di antaranya: Program KKN Membangun Desa; Program Wisata Edukasi Laboratorium Penelitian Sosial; Program Produksi Buku Ajar; Program Penerbitan Karya Guru; dan Program Penguatan Kerjasama kepada Pihak Luar. Lima program di atas tentu perlu dikritisi ulang sebelum diimplementasikan.

Pertama, Program KKN Membangun Desa. Sudah saatnya Jurusan Sosiologi & Antropologi Unnes menawarkan program KKN (Kuliah Kerja Nyata) para mahasiswa dalam penyiapan data pembangunan desa. Harapan program ini berangkat dari minimnya data pendukung untuk membangun desa. Terlebih pada saat ini pemerintah sedang menggulirkan dana desa yang cukup besar untuk pembangunan. Dengan support data pembangunan desa, diharapkan pihak desa mampu merencanakan pembangunan desa dengan baik.

Harapan program KKN mahasiswa Sosant membangun desa tentu bukanlah tanpa dasar. Program KKN sebagai pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, sudah saatnya disinergikan dengan relefansi kurikulum prodi Sosant di lapangan, khususnya mata kuliah Sosiologi Pembangunan dan Antropologi Pembangunan. Pihak jurusan sebisa mungkin membuat instrumen pendukung program penyiapan data pembangunan desa yang disinergikan dengan kapasitas dan kapabilitas para mahasiswa yang akan melangsugkan program KKN tersebut.

Beberapa program KKN yang perlu digulirkan dalam penyiapan data pembangunan desa di antaranya: Kajian Etnografi Desa, Produksi Film Dokumenter Desa, Pembaruan Peta Potensi Desa, Website Desa, Pembuatan Buku Profil Desa, Promo Produk Unggulan Desa, Promo Desa Wisata, dan Mendirikan Komunitas-komunitas Pendukung, misalnya Komunitas Baca, Komunitas Pelestari Tradisi, hingga Komunitas Pelestari Alam Desa Adat. Dengan didukung ketersediaan data pembangunan desa di atas, terlebih hasil data yang ada bernuansa ideal, indepent, dan terbarukan, maka data-data tersebut  akan dapat dipergunakan oleh pihak desa dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka membangun desa yang mandiri dan berdaulat.

Kedua, Program Wisata Edukasi Laboratorium Penelitian Sosial untuk Siswa. Program wisata edukasi ini merupakan rekayasa teknologi informasi dan komunikasi yang terkendali dalam ruangan, yang menyuguhkan teknik penelitian sosial bagi siswa SMA dan sederajat. Laboratorium penelitian sosial untuk siswa ini merupakan rangkaian ruangan yang terintegrasi--yang di dalamnya memuat teknik penelitian sosial sederhana. Ruang laboratorium sebisa mungkin didesain sedemikian rupa dengan nuansa wisata.

Latar belakang harapan program wisata edukasi ini adalah tentang minimnya pemahaman siswa dalam menyusun perencanaan penelitian sosial. Pada umumya para siswa juga belum memiliki kompetensi dalam melakukan penelitian sosial walaupun sifatnya sederhana.

Secara teknis, ruang laboratirum sosial ini setidaknya memiliki lima ruangan yang saling terintegrasi. Lima ruangan tersebut di antaranya: Ruang Mengenal Penelitian Sosial, Ruang Belantara Masalah Sosial, Ruang Digitalisasi Perencanaan Penelitian Sosial, serta Ruang Pusat Oleh-oleh Edukasi.

Ruang Mengenal Penelitian Sosial menekankan pada filosofi ilmu pengetahuan sosial, urgensi penelitian sosial, dan tanggung jawab siswa IPS. Dalam ruangan inilah para siswa akan mendapatkan beragam informasi holistik tentang paradigma ilmu-ilmu sosial. Dalam ruangan ini pula siswa akan mendapatkan latar belakang mengapa yang bersangkutan perlu memiliki kompetensi merencanakan penelitian. Dan juga dalam ruangan ini para siswa mendapatkan informasi perihal peranan siswa di era kekinian melalui penelitian dan hasil penelitian untuk sumbangsih membangun negeri yang mapan.

Ruang belantara masalah sosial merupakan display dari masalah sosial terdahulu, masa kini, hingga masalah-masalah sosial yang akan muncul di kemudian hari. Ragam display masalah sosial dapat meliputi beragam bidang. Mulai dari Masalah Sosial Bidang Tanah, Air, Udara, Bahasa, Tradisi, Seni, Religi, Fashion, Pendidikan, teknologi, Mata Pencaharian, Iklim, Peternakan, Pertanian, Kelautan, Transportasi, Komunikasi, Uang, dan lain sebagainya. Display dari beragam bahan tersebut dapat ditunjang dari karya mahasiswa dan dosen jurusan Sosant sendiri. Adapun bentuk display dapat dalam bentuk Film Dokumenter, Galeri Foto, Audio, Kliping, X-banner, Majalah, Jurnal, dan lain-lain.

Ruang digitalisasi perencanaan penelitian sosial merupakan ruang pintar yang di dalamnya terdapat beragam alat digital yang diperuntukkan melayani para siswa untuk merencanakan penelitian sosial. Digitalisasi perencanaan penelitian sosial di dalamnya memuat pangkal data siswa dan tombol peminatan penelitian sosial. Pangkal data siswa diperuntukkan untuk menyimpan data asal sekolah siswa serta sekaligus menghubungkan beragam masalah-masalah sosial terkini di daerah tempat tinggal siswa berada. Selanjutnya tombol peminatan penelitian sosial memuat tentang beragam tombol digital yang didesain sedemikian rupa menyerupai langkah-langkah penyusunan rencana penelitian sosial yang sifatya sederhana. Tombol pintar secara sistematis dapat memuat tentang pilihan tema Penelitian, Pilihan Masalah, Lokasi Penelitian, Tujuan dan Manfaat, Kajian Teori dan Telaah Pustaka, Instrumen Penelitian, Sumber Data yang digunakan, Teknik Pengumpulan Data yang Dipilih, hingga Pendekatan Analisis yang Digunakan. Ruang Digitalisasi Perencanaan Penelitian Sosial perlu disiapkan sedemikian rupa dengan memanfaatkan aplikasi program komputerisasi terkini yang sifatnya sangat peka dan pintar dalam hal membantu siswa saat merancang penelitian sosial.

Ruang paket souvenir penelitian sosial merupakan ruang visualisasi dan printout dari digitalisasi perencanaan penelitian sosial sebelumnya. Pada ruang inilah, pihak jurusan dapat melakukan transaksi jasa kepada para siswa. Beragam jasa yang dapat dipertukarkan kepada siswa di antaranya: Printout Rencana Penelitian Sosial, CD/DVD Bahan Pendukung Penelitian, Stiker Penelitian, Kaos Penelitian Sosial, Tas Penelitian Sosial, ID card Penelitian Sosial, Booknote Penelitian Sosial, hingga Sertifikat Pelatihan Perencanaan Penelitian Sosial Berbasis Wisata Edukasi melalui Laboratorium Penelitian Sosial jurusan Sosant, Unnes. Di sinilah para siswa akan mendapatkan produk belajar penelitian sosial sembari wisata edukasi yang menyenangkan.

Selanjutnya adalah ruang pusat oleh-oleh wisata edukasi. Ruangan ini dapat didesain sedemikian rupa dengan nuansa wisata. Keadaan yang nyaman dan menyenangkan menjadi penting dihadirkan di ruangan ini. Beragam produk jurusan Sosant dan beragam produk luar yang relevan dapat ditawarkan di ruangan ini. Beragam produk mulai dari Kuliner Sosial, Replika Sosial budaya dan Adat Nusantara, hingga Minuman Segar, dari semua contoh tersebut dapat ditawarkan. Pada ruangan ini juga dapat dilengkapi dengan Toko Buku SMA, Info Perguruan Tinggi, Jasa Bimbingan Penelitian dan Masuk Perguruan Tinggi, Bursa Kerja, serta Fasilitas Permainan Tradisional hingga Fasilitas Beribadah.

Jika suatu ketika program ini dapat terealisasi, Program Wisata Edukasi Penelitian Sosial ini dapat diintegrasikan dengan program jurusan Sosant yang sudah mapan, di antaranya program Olimpiade Sosiologi SMA se-Indonesia bahkan hingga olimpiade guru sosiologi se-Indonesia.

Ketiga, Program Produksi Bahan Ajar Saat Kuliah. Harapan adanya program ini berangkat dari pengamalan para alumni saat pertama kali mengajar mata pelajaran sosiologi. Singkat cerita, mereka pada umumnya terasa kurang memiliki referensi bahan ajar. Apalagi bahan ajar saat kuliah yang didapatkan tidak serta merta dapat digunakan para siswa. Beragam materi kuliah yang didapatkan mau tidak mau harus diracik ulang guna keperluan pembelajaran siswa di kelas. Untuk itu tugas mahasiswa Sosant saat kuliah jangan terkesan hanya sebatas untuk lulus saja. Sudah saatnya pihak jurusan merancang sedemikian rupa untuk menyiapkan calon guru Sosant agar siap mengajar dengan kompenten dan kapabalitas yang memadai.

Program produksi bahan ajar yang dapat disiapkan sebisa mungkin diintegrasikan dengan silabus sosiologi sesuai tingkat kelas dan penjurusannya. Adapun tematik bahan ajar yang dapat diproduksi (dicetak) di antaranya materi tentang: Interaksi Sosial, Norma Sosial, Tindakan Sosial, Diferensiasi Sosial, Stratifikasi Sosial, Mobilitas Sosial, Kelompok Sosial, Masyarakat Multikultural, Lembaga Sosial, Gender dan Pembangunan, hingga Teknik Penelitian Sosial.

Bahan ajar yang telah tercetak di atas, dapat diuji-cobakan pada saat mahasiswa Sosant melangsungkan program PPL (Praktik Pengalaman Lapangan). Usai pelaksanaan program PPL, bahan ajar tersebut dapat difinalisasi sedemikian rupa hingga layak menjadi bahan ajar untuk para siswa SMA dan sederajat. Tindak lanjut dari program ini juga dapat mendorong munculnya para penulis buku teks sosiologi yang masih langka.

Keempat, Program Penerbitan Karya Guru. Harapan program ini pun berangkat dari pengalaman Penulis dan teman-teman guru sosiologi dan juga antropologi sejawat. Suatu ketika saya menulis sebuah artikel hasil penelitian. Singkat cerita, tulisan tersebut Penulis kirim ke Jurnal Komunitas, yang saat itu kebetulan dimuat. Namun ketika Penulis bertemu dengan guru sosiologi yang lain, ternyata menulis artikel penelitian hingga dimuat di Jurnal Komunitas bukanlah mudah. Terlebih saat ini Jurnal Komunitas menjadi jurnal yang memiliki prestige tersendiri yang diburu para penulis baik dalam maupun luar negeri.
Berangkat dari kenyataan di atas, sudah saatnya jurusan mendorong para guru sosiologi untuk tetap produktif dalam karya ilmiah, dengan cara pihak jurusan memfasilitasi layanan penerbitan produk karya ilmiah guru. Fasilitasi layanan penerbitan yang dimaksud adalah pihak jurusan Sosant mendirikan lembaga penerbitan. Lembaga penerbitan yang ada diharapkan mampu melayani guru Sosant untuk menerbitkan karya-karyanya.

Beberapa karya guru yang dapat difasitasi pihak jurusan Sosant di antaranya:  Penerbitan Jurnal Khusus Hasil Penelitian Skripsi, Penerbitan Bahan Ajar, Penerbitan Junal Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Penerbitan Jurnal Gagasan Pembelajaran Inovatif, Penerbitan Media Pembelajaran Inspiratif, Penerbitan Lembar Kerja Guru dan Siswa, termasuk juga karya-karya para siswa IPS yang menarik. Melalui produk penerbitan inilah, komunikasi keilmuan dan pembelajaran serta pengajaran dapat terjalin dengan baik.

Kelima, Program Kerjasama. Program kerjasama yang dimaksud adalah program tindak lanjut saat mahasiswa Sosant lulus kuliah. Gagasan program kerjasama ini berangkat pula dari pengalaman di lapangan bahwa tidak semua mahasiswa Sosant yang lulus langsung dapat pekerjaan. Menanti dan menanti panggilan dari surat lamaran adalah masa-masa liminal yang tidak jelas dan membosankan. Bahkan studi lanjut pascasarjana dilakukan dalam rangka menutupi pengangguran semu ini. Untuk itu, pihak jurusan Sosant diharapkan selalu membangun kerjasama kepada pihak manapun dalam rangka mempromosikan para lulusannya yang siap kerja di lapangan, termasuk kerjasama studi lanjut di kemudian hari. Bagi kami para alumni, pendampingan dan informasi lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif saat ini, sangat kami butuhkan. Walaupun lagi-lagi, Tuhanlah yang menentukan.



Pamotan, 16 Juli 2016

* Disampaikan dalam Seminar Nasional “Kontribusi Alumni untuk Penguatan Kelembagaan Prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi FIS Unnes, Minggu 17 Juli 2016.

** Penulis adalah alumni mahasiswa Prodi Sosiologi & Antropologi, angkatan 2002. Saat ini mengajar di SMA Negeri 1 Pamotan, Rembang. Saat ini juga aktif menjadi tim instruktur kurikulum 2013 untuk guru sasaran sosiologi Provinsi Jawa Tengah.
Politik Etis Gagal Total

Politik Etis Gagal Total


Suatu telaah kritis tulisan Ricklefs dalam bukunya (terjemahan)
yang berjudul “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008”

Oleh: Suhadi Rembang[1]

Tulisan yang dimuat pada halaman 327 hingga halaman 351, terlihat jelas bahwa politik etis[2] yang didedahkan dari buah pikir para akademisi Belanda sebagai buah kasih dari Belanda kepada Indonesia (Jawa khususnya), gagal total. Tiga program unggulan yang dijalankan sebagai balas kasih[3] mulai dari program edukasi, irigasi, dan transmigrasi, menurut Ricklefs, hanya sebagai topeng (bahasa penulis) agar Belanda mendapatkan simpati dan nama baik, jika kelak harus hengkang dari tanah kepulauan ini. Gagalnya politik etis inilah yang menurut Ricklefs hanya sebagai zaman penjajahan baru. Terbukti, dalam catatan akhir Ricklefs, program politik etis hanya menjadi industri pergerakan sosial yang menentang hingga melawan keberadaan Belanda itu sendiri.

Kegagalan itu, menurut Ricklefs (2008), dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, lahirnya politik etis dibarengi dengan gerakan investasi global di Indonesia. Ricklefs memandang, apapun program dalam politik etis, nantinya tetap memiliki kepentingan profit. Hal tersebut kemudian dapat dilihat adanya kebijakan yang melebar, dari Jawa, meluas menjadi ke luar Jawa. Luar Jawa lebih menarik sebagai pusat politik etis karena daerah tersebut masih memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Sedangkan jawa telah dalam keadaan rusak yang tentunya menyedot dana besar dari kas negara Belanda.

Kedua, adanya dua pandangan yang memiliki pusaran berbeda. Ada yang berpandangan politik etis harus mampu menumbuhkan kecerdasan dan kesejahteraan agar tercipta kemandirian sosial. Namun pusaran kedua berpandangan berbeda, dimana kecerdasan dan kesejaheraan tidak serta merta di berikan agar tercipta kemandirian sosial. Kasus ini dapat dilihat dengan program pendidikan yang tidak menggunakan bahasa pengantar lokal, mereka yang sekolah hanya anak-anak bupati, hingga penyumbatan aliran dana politik etis.

Ketiga, terjadinya pertarungan sturktur pada pemerintahan lokal (Indonesia), dimana para bupati dan pejabat pemerintahan lokal lainnya cenderung menguasai dan menimati porgram politik etis Belanda. Adapun sasaran masyarakat lokal, menjadi penonton dari luar.

Kegagalan politik etis itu kemudian, menurut Ricklefs, menjadi industri yang menghasilkan masalah-masalah sosial dan struktural. Transmigrasi hanya sebagai program mobilisasi buruh untuk menanam tanaman unggulan pasar internasional. Transmigrasi juga menciptakan kekaburan hubungan antar kepulauan yang tidak harmonis lagi karena adanya sentralisasi yang memihal pulau-pulau tertentu. Selanjutnya, program edukasi juga menghasilkan masalah baru. Masyarakat lokal harus menanggung biaya bangunan sekolah dan iuran sekolah sekaligus yang didirikan di desa-desa. Program edukasi ini kemudian semakin mencekik masyarakat desa. Mereka sedang dihantui busung lapar, namun untuk menjadi cerdas harus menggadaikan martabatnya agar anak-anaknya bisa sekolah. Begitu halnya dalam hal irigasi. Program ini hanya sebagai proyek irigasi yang mangkrak, yang tidak mampu mendulang kemandirian pangan di tiap-tiap desa.

Terlepas dari sisi kritis seorang Ricklefs dalam mengkritisi program politik etis yang gagal total itu, ada hal yang menarik yang patut kita cermati. Pertama, Ricklefs tidak memotret pemikiran pribumi akan pengaruhnya dalam melahirkan potilik etis. Mengapa Ricklefs  hanya menampilkan pusaran pemikiran politik etis itu hanya dari sudut Belanda. Terlihat politik etis hanya memiliki relasi tunggal (Belanda). Kedua, Ricklefs dengan lugas membandingkan kegagalan politik etis Belanda di Indonesia dengan keberhasilan politik etis Amerika Serikat di Vietnam.  Mengapa perbandingannya hanya Vietnam dan memiliki relasi dengan Amerika Serikat. Ricklefs juga tidak dengan lengkap memuat peranan kaum imperialis klasik hingga modern dalam menancapkan program politik etis pada daerah-daerah jajahannya. Tentu saja, tulisan Ricklefs ini mengundang tanya.

Tulisan Ricklefs tentang zaman penjajahan baru dapat kita jadikan bahan pelajaran untuk membangun Indonesia masa depan. Ricklefs telah memberikan pelajaran penting pada kita (bangsa Indonesia), dimana dalam menjalankan program pembangunan, harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Keberanian Ricklefs menuding Belanda dalam politik etis yang penuh dengan keragu-raguan akan data yang memuat hasil politik etis, jangan sampai kita tiru. Jangan-jangan banyaknya kasus kemiskinan pada diri kita ini, akibat dari keberlangsungan zaman penjajahan baru.

Sumber review:
Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. Halaman: 327 – 351.

Ngaliyan, 25 November 2011


[1] Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Pamotan, sedang studi lanjut di Pendidikan IPS PPs UNNES.
[2] Politik etis berawal dari kritik yang dimuat oleh novel Max Havelar (1860) yang menuntut kebiadapan pemerintah Belanda dalam menciptakan penderitaan masyarakat Jawa (lihat hal, 37).
[3] Saya tidak begitu sepakat dengan istilah balas kasih yang dicetuskan pada akademisi Belanda yang menaruh empati pada Indonesia. Istilah politik etis pun, saya melihat ada unsur eufimistis dan hiperbol. Adapun van Deventer menyebutnya sebagai “suatu utang kehormatan”. Apakah kita pernah dipandang terhormat. Lagi-lagi kita sedang dalam pangkuan hegemoni istilah.Bagaimana tidak, rakyat kita ini dipaksa untuk memperkaya Belanda, tetapi mengapa harus di balas dengan kasih. Jelas, paksa dan kasih adalah dua kutup yang berbeda. Adapun van Deventer menyebutnya sebagai “suatu utang kehormatan”. Apakah kita pernah dipandang terhormat. Lagi-lagi kita sedang dalam pangkuan hegemoni istilah.