Sep 1, 2016

Butik Najma Lasem

Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi yang menjadi bagian budaya asli Indonesia. Dengan nilai seni tinggi, di bidang busana itulah, sejak 2 Oktober 2009, UNESCO telah menetapkan batik menjadi warisan kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Butik Najma, yang beralamatkan di Jl. Soditan, No.09, Lasem
Di Lasem, banyak sekali pengrajin batik yang dikenal dengan batik tulis lasem. Bukan hanya memproduksi sehelai kain batik tulis saja, sekarang para pengusaha batik tulis lasem telah melakukan banyak inovasi terhadap kain batik tulis lasem. Seperti yang dilakukan oleh Juhar Tutik pemilik Butik Najma, yang beralamatkan di Jl. Soditan, No.09, Lasem.

Butik Najma merupakan sebuah toko pakaian yang melakukan inovasi terhadap kain batik. Di Butik Najma inilah Anda akan mendapatkan berabagai macam bahan batik tulis lasem yang disulap menjadi pakaian pria & wanita yang terdiri dari; gamis katun, gamis batik, baju kerja, gamis sutera, gamis haji, dan baju katun. Selain itu juga tersedia T-Shirt, mukena, jilbab yang semuanya dipadukan dengan kain batik tulis lasem. Tak usah khawatir jika Anda butuh kain batik lasem secara utuh, Butik Najma juga menyediakan dengan berbagai pilihan motif.

Semakin spesial, pemilik Butik Najma juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tercatat Butik Najma pernah ikut berpartisipasi dalam berbagai acara sosial dan kebudayaan di Lasem, Pamotan hingga Rembang. Beberapa kegiatan sosial yang didukung oleh Butik Najma diantaranya; Lasem Fest 2014, Santunan Anak Yatim, Program Komputer Pintar dan Baksos Pakaian Hari Raya.

Dengan lokasi yang mudah diakses, yaitu di pusat Kota Lasem atau di sebelah utara Masjid Lasem, Butik Najma sangat pas untuk menjadi tempat kunjungan dan mencari tempat oleh-oleh Batik Tulis ketika Anda  melintas di Lasem. Butik ini juga melayani delivery atau pesan antar jika Anda tidak ingin repot-repot keluar rumah. Anda tinggal pilih motif batik yang akan Anda beli, di alamat website butiknajma.com atau hubungi nomor telepon +6285225404088 dan +6287717333488 jika Anda perlukan. Selamat belanja dan selamat melestarikan warisan budaya bangsa.[ean]

Kontak:
Website           : butiknajma.com
e-mail              : juhartutik@gmail.com
facebook         : Juhar Tutik

twitter             : @butiknajma

(sumber: http://wartarembang.com/butik-najma-lasem/) 

Jul 19, 2016

Program Harapan untuk Penguatan Prodi Sosant*

Suasana Seminar Nasional Penguatan Kelembagaan (Doc. Ika Sosant, 2016)
Pada tren saat ini, tiap-tiap sekolah cenderung membutuhkan guru profesional. Guru profesional yang diharapkan adalah guru yang memiliki kompetensi penguasaan materi mata pelajaran yang diajarkan dan memiliki ragam kompetensi pedadogik yang menyenangkan. Dengan dua kompetensi yang dimiliki guru tersebut, pihak sekolah yakin akan berhasil mendongkrak prestasi siswa yang handal. Dengan tren permintaan guru profesional saat ini dan masa depan, tentu lembaga pencetak tenaga kependidikan tidak boleh tinggal diam. Maka dari itu hal yang harus dilakukan adalah rekayasa penguatan tiap-tiap program studi yang ditawarkan.

Menanggapi tren kebutuhan guru profesional pada masa kini dan masa depan nanti, jurusan Sosant Unnes yang memiliki prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi harus memperhatikan dua hal. Pertama, proses perkuliahan harus didampingi oleh para pakar. Kedua, tiap-tiap lulusan harus diuji dan teruji kompetensinya dalam hal pengajaran.

Proses perkuliahan para calon guru Sosant yang didampingi para pakar (dosen berkualitas), tentu akan melahirkan lulusan yang mapan. Sebaliknya, lulusan tidak akan berkualitas jika para dosen tidak memiliki kepakaran dalam mata kuliah yang diajarkan. Untuk bagian ini, kita percaya bahwa jurusan Sosant adalah jurusan yang telah cukup memiliki para pakar dalam proses perkuliahan. Kita juga yakin jurusan Sosant senantiasa menjaga dan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kepakaran para dosen yang mengajar di jurusan.

Begitupun dengan kualitas lulusan yang dilahirkan. Tidak diragukan lagi, jurusan Sosant adalah jurusan yang cukup menarik diperhatikan karena para lulusannya cukup banyak terserap di lembaga pendidikan . Karena lahirnya jurusan ini adalah jawaban dari permintaan guru Sosant yang cukup tinggi, namun di sisi lain terjadi kelangkaan sarjana pendidikan yang berlatar belakang keilmuan yang sama. Dengan itu menjadi alumni jurusan Sosant, tentu patut berbangga hati. Namun demi terjaganya kualitas lulusan, sebagai alumni kita harus tetap memberi kritik dan masukan yang sifatnya membangun kepada jurusan.

Perihal menjaga dan meningkatkan kualitas dosen yang kapasitasnya adalah para pakar, hal itu merupakan ruang kreatifitas pihak jurusan. Adapun pada tulisan ini hanya memfokuskan pada bagian yang kedua, yaitu memberi masukan program agar tiap-tiap lulusan memiliki kompetensi menjadi calon pengajar yang handal.

Berikut ini merupakan harapan program yang kemungkinan dapat diterapkan dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusan prodi di jurusan sosant. Terdapat lima harapan program yang hendak ditawarkan. Lima harapan pragram tersebut di antaranya: Program KKN Membangun Desa; Program Wisata Edukasi Laboratorium Penelitian Sosial; Program Produksi Buku Ajar; Program Penerbitan Karya Guru; dan Program Penguatan Kerjasama kepada Pihak Luar. Lima program di atas tentu perlu dikritisi ulang sebelum diimplementasikan.

Pertama, Program KKN Membangun Desa. Sudah saatnya Jurusan Sosiologi & Antropologi Unnes menawarkan program KKN (Kuliah Kerja Nyata) para mahasiswa dalam penyiapan data pembangunan desa. Harapan program ini berangkat dari minimnya data pendukung untuk membangun desa. Terlebih pada saat ini pemerintah sedang menggulirkan dana desa yang cukup besar untuk pembangunan. Dengan support data pembangunan desa, diharapkan pihak desa mampu merencanakan pembangunan desa dengan baik.

Harapan program KKN mahasiswa Sosant membangun desa tentu bukanlah tanpa dasar. Program KKN sebagai pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, sudah saatnya disinergikan dengan relefansi kurikulum prodi Sosant di lapangan, khususnya mata kuliah Sosiologi Pembangunan dan Antropologi Pembangunan. Pihak jurusan sebisa mungkin membuat instrumen pendukung program penyiapan data pembangunan desa yang disinergikan dengan kapasitas dan kapabilitas para mahasiswa yang akan melangsugkan program KKN tersebut.

Beberapa program KKN yang perlu digulirkan dalam penyiapan data pembangunan desa di antaranya: Kajian Etnografi Desa, Produksi Film Dokumenter Desa, Pembaruan Peta Potensi Desa, Website Desa, Pembuatan Buku Profil Desa, Promo Produk Unggulan Desa, Promo Desa Wisata, dan Mendirikan Komunitas-komunitas Pendukung, misalnya Komunitas Baca, Komunitas Pelestari Tradisi, hingga Komunitas Pelestari Alam Desa Adat. Dengan didukung ketersediaan data pembangunan desa di atas, terlebih hasil data yang ada bernuansa ideal, indepent, dan terbarukan, maka data-data tersebut  akan dapat dipergunakan oleh pihak desa dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka membangun desa yang mandiri dan berdaulat.

Kedua, Program Wisata Edukasi Laboratorium Penelitian Sosial untuk Siswa. Program wisata edukasi ini merupakan rekayasa teknologi informasi dan komunikasi yang terkendali dalam ruangan, yang menyuguhkan teknik penelitian sosial bagi siswa SMA dan sederajat. Laboratorium penelitian sosial untuk siswa ini merupakan rangkaian ruangan yang terintegrasi--yang di dalamnya memuat teknik penelitian sosial sederhana. Ruang laboratorium sebisa mungkin didesain sedemikian rupa dengan nuansa wisata.

Latar belakang harapan program wisata edukasi ini adalah tentang minimnya pemahaman siswa dalam menyusun perencanaan penelitian sosial. Pada umumya para siswa juga belum memiliki kompetensi dalam melakukan penelitian sosial walaupun sifatnya sederhana.

Secara teknis, ruang laboratirum sosial ini setidaknya memiliki lima ruangan yang saling terintegrasi. Lima ruangan tersebut di antaranya: Ruang Mengenal Penelitian Sosial, Ruang Belantara Masalah Sosial, Ruang Digitalisasi Perencanaan Penelitian Sosial, serta Ruang Pusat Oleh-oleh Edukasi.

Ruang Mengenal Penelitian Sosial menekankan pada filosofi ilmu pengetahuan sosial, urgensi penelitian sosial, dan tanggung jawab siswa IPS. Dalam ruangan inilah para siswa akan mendapatkan beragam informasi holistik tentang paradigma ilmu-ilmu sosial. Dalam ruangan ini pula siswa akan mendapatkan latar belakang mengapa yang bersangkutan perlu memiliki kompetensi merencanakan penelitian. Dan juga dalam ruangan ini para siswa mendapatkan informasi perihal peranan siswa di era kekinian melalui penelitian dan hasil penelitian untuk sumbangsih membangun negeri yang mapan.

Ruang belantara masalah sosial merupakan display dari masalah sosial terdahulu, masa kini, hingga masalah-masalah sosial yang akan muncul di kemudian hari. Ragam display masalah sosial dapat meliputi beragam bidang. Mulai dari Masalah Sosial Bidang Tanah, Air, Udara, Bahasa, Tradisi, Seni, Religi, Fashion, Pendidikan, teknologi, Mata Pencaharian, Iklim, Peternakan, Pertanian, Kelautan, Transportasi, Komunikasi, Uang, dan lain sebagainya. Display dari beragam bahan tersebut dapat ditunjang dari karya mahasiswa dan dosen jurusan Sosant sendiri. Adapun bentuk display dapat dalam bentuk Film Dokumenter, Galeri Foto, Audio, Kliping, X-banner, Majalah, Jurnal, dan lain-lain.

Ruang digitalisasi perencanaan penelitian sosial merupakan ruang pintar yang di dalamnya terdapat beragam alat digital yang diperuntukkan melayani para siswa untuk merencanakan penelitian sosial. Digitalisasi perencanaan penelitian sosial di dalamnya memuat pangkal data siswa dan tombol peminatan penelitian sosial. Pangkal data siswa diperuntukkan untuk menyimpan data asal sekolah siswa serta sekaligus menghubungkan beragam masalah-masalah sosial terkini di daerah tempat tinggal siswa berada. Selanjutnya tombol peminatan penelitian sosial memuat tentang beragam tombol digital yang didesain sedemikian rupa menyerupai langkah-langkah penyusunan rencana penelitian sosial yang sifatya sederhana. Tombol pintar secara sistematis dapat memuat tentang pilihan tema Penelitian, Pilihan Masalah, Lokasi Penelitian, Tujuan dan Manfaat, Kajian Teori dan Telaah Pustaka, Instrumen Penelitian, Sumber Data yang digunakan, Teknik Pengumpulan Data yang Dipilih, hingga Pendekatan Analisis yang Digunakan. Ruang Digitalisasi Perencanaan Penelitian Sosial perlu disiapkan sedemikian rupa dengan memanfaatkan aplikasi program komputerisasi terkini yang sifatnya sangat peka dan pintar dalam hal membantu siswa saat merancang penelitian sosial.

Ruang paket souvenir penelitian sosial merupakan ruang visualisasi dan printout dari digitalisasi perencanaan penelitian sosial sebelumnya. Pada ruang inilah, pihak jurusan dapat melakukan transaksi jasa kepada para siswa. Beragam jasa yang dapat dipertukarkan kepada siswa di antaranya: Printout Rencana Penelitian Sosial, CD/DVD Bahan Pendukung Penelitian, Stiker Penelitian, Kaos Penelitian Sosial, Tas Penelitian Sosial, ID card Penelitian Sosial, Booknote Penelitian Sosial, hingga Sertifikat Pelatihan Perencanaan Penelitian Sosial Berbasis Wisata Edukasi melalui Laboratorium Penelitian Sosial jurusan Sosant, Unnes. Di sinilah para siswa akan mendapatkan produk belajar penelitian sosial sembari wisata edukasi yang menyenangkan.

Selanjutnya adalah ruang pusat oleh-oleh wisata edukasi. Ruangan ini dapat didesain sedemikian rupa dengan nuansa wisata. Keadaan yang nyaman dan menyenangkan menjadi penting dihadirkan di ruangan ini. Beragam produk jurusan Sosant dan beragam produk luar yang relevan dapat ditawarkan di ruangan ini. Beragam produk mulai dari Kuliner Sosial, Replika Sosial budaya dan Adat Nusantara, hingga Minuman Segar, dari semua contoh tersebut dapat ditawarkan. Pada ruangan ini juga dapat dilengkapi dengan Toko Buku SMA, Info Perguruan Tinggi, Jasa Bimbingan Penelitian dan Masuk Perguruan Tinggi, Bursa Kerja, serta Fasilitas Permainan Tradisional hingga Fasilitas Beribadah.

Jika suatu ketika program ini dapat terealisasi, Program Wisata Edukasi Penelitian Sosial ini dapat diintegrasikan dengan program jurusan Sosant yang sudah mapan, di antaranya program Olimpiade Sosiologi SMA se-Indonesia bahkan hingga olimpiade guru sosiologi se-Indonesia.

Ketiga, Program Produksi Bahan Ajar Saat Kuliah. Harapan adanya program ini berangkat dari pengamalan para alumni saat pertama kali mengajar mata pelajaran sosiologi. Singkat cerita, mereka pada umumnya terasa kurang memiliki referensi bahan ajar. Apalagi bahan ajar saat kuliah yang didapatkan tidak serta merta dapat digunakan para siswa. Beragam materi kuliah yang didapatkan mau tidak mau harus diracik ulang guna keperluan pembelajaran siswa di kelas. Untuk itu tugas mahasiswa Sosant saat kuliah jangan terkesan hanya sebatas untuk lulus saja. Sudah saatnya pihak jurusan merancang sedemikian rupa untuk menyiapkan calon guru Sosant agar siap mengajar dengan kompenten dan kapabalitas yang memadai.

Program produksi bahan ajar yang dapat disiapkan sebisa mungkin diintegrasikan dengan silabus sosiologi sesuai tingkat kelas dan penjurusannya. Adapun tematik bahan ajar yang dapat diproduksi (dicetak) di antaranya materi tentang: Interaksi Sosial, Norma Sosial, Tindakan Sosial, Diferensiasi Sosial, Stratifikasi Sosial, Mobilitas Sosial, Kelompok Sosial, Masyarakat Multikultural, Lembaga Sosial, Gender dan Pembangunan, hingga Teknik Penelitian Sosial.

Bahan ajar yang telah tercetak di atas, dapat diuji-cobakan pada saat mahasiswa Sosant melangsungkan program PPL (Praktik Pengalaman Lapangan). Usai pelaksanaan program PPL, bahan ajar tersebut dapat difinalisasi sedemikian rupa hingga layak menjadi bahan ajar untuk para siswa SMA dan sederajat. Tindak lanjut dari program ini juga dapat mendorong munculnya para penulis buku teks sosiologi yang masih langka.

Keempat, Program Penerbitan Karya Guru. Harapan program ini pun berangkat dari pengalaman Penulis dan teman-teman guru sosiologi dan juga antropologi sejawat. Suatu ketika saya menulis sebuah artikel hasil penelitian. Singkat cerita, tulisan tersebut Penulis kirim ke Jurnal Komunitas, yang saat itu kebetulan dimuat. Namun ketika Penulis bertemu dengan guru sosiologi yang lain, ternyata menulis artikel penelitian hingga dimuat di Jurnal Komunitas bukanlah mudah. Terlebih saat ini Jurnal Komunitas menjadi jurnal yang memiliki prestige tersendiri yang diburu para penulis baik dalam maupun luar negeri.
Berangkat dari kenyataan di atas, sudah saatnya jurusan mendorong para guru sosiologi untuk tetap produktif dalam karya ilmiah, dengan cara pihak jurusan memfasilitasi layanan penerbitan produk karya ilmiah guru. Fasilitasi layanan penerbitan yang dimaksud adalah pihak jurusan Sosant mendirikan lembaga penerbitan. Lembaga penerbitan yang ada diharapkan mampu melayani guru Sosant untuk menerbitkan karya-karyanya.

Beberapa karya guru yang dapat difasitasi pihak jurusan Sosant di antaranya:  Penerbitan Jurnal Khusus Hasil Penelitian Skripsi, Penerbitan Bahan Ajar, Penerbitan Junal Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Penerbitan Jurnal Gagasan Pembelajaran Inovatif, Penerbitan Media Pembelajaran Inspiratif, Penerbitan Lembar Kerja Guru dan Siswa, termasuk juga karya-karya para siswa IPS yang menarik. Melalui produk penerbitan inilah, komunikasi keilmuan dan pembelajaran serta pengajaran dapat terjalin dengan baik.

Kelima, Program Kerjasama. Program kerjasama yang dimaksud adalah program tindak lanjut saat mahasiswa Sosant lulus kuliah. Gagasan program kerjasama ini berangkat pula dari pengalaman di lapangan bahwa tidak semua mahasiswa Sosant yang lulus langsung dapat pekerjaan. Menanti dan menanti panggilan dari surat lamaran adalah masa-masa liminal yang tidak jelas dan membosankan. Bahkan studi lanjut pascasarjana dilakukan dalam rangka menutupi pengangguran semu ini. Untuk itu, pihak jurusan Sosant diharapkan selalu membangun kerjasama kepada pihak manapun dalam rangka mempromosikan para lulusannya yang siap kerja di lapangan, termasuk kerjasama studi lanjut di kemudian hari. Bagi kami para alumni, pendampingan dan informasi lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif saat ini, sangat kami butuhkan. Walaupun lagi-lagi, Tuhanlah yang menentukan.



Pamotan, 16 Juli 2016

* Disampaikan dalam Seminar Nasional “Kontribusi Alumni untuk Penguatan Kelembagaan Prodi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi FIS Unnes, Minggu 17 Juli 2016.

** Penulis adalah alumni mahasiswa Prodi Sosiologi & Antropologi, angkatan 2002. Saat ini mengajar di SMA Negeri 1 Pamotan, Rembang. Saat ini juga aktif menjadi tim instruktur kurikulum 2013 untuk guru sasaran sosiologi Provinsi Jawa Tengah.

Nov 30, 2011

Politik Etis Gagal Total


Suatu telaah kritis tulisan Ricklefs dalam bukunya (terjemahan)
yang berjudul “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008”

Oleh: Suhadi Rembang[1]

Tulisan yang dimuat pada halaman 327 hingga halaman 351, terlihat jelas bahwa politik etis[2] yang didedahkan dari buah pikir para akademisi Belanda sebagai buah kasih dari Belanda kepada Indonesia (Jawa khususnya), gagal total. Tiga program unggulan yang dijalankan sebagai balas kasih[3] mulai dari program edukasi, irigasi, dan transmigrasi, menurut Ricklefs, hanya sebagai topeng (bahasa penulis) agar Belanda mendapatkan simpati dan nama baik, jika kelak harus hengkang dari tanah kepulauan ini. Gagalnya politik etis inilah yang menurut Ricklefs hanya sebagai zaman penjajahan baru. Terbukti, dalam catatan akhir Ricklefs, program politik etis hanya menjadi industri pergerakan sosial yang menentang hingga melawan keberadaan Belanda itu sendiri.

Kegagalan itu, menurut Ricklefs (2008), dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, lahirnya politik etis dibarengi dengan gerakan investasi global di Indonesia. Ricklefs memandang, apapun program dalam politik etis, nantinya tetap memiliki kepentingan profit. Hal tersebut kemudian dapat dilihat adanya kebijakan yang melebar, dari Jawa, meluas menjadi ke luar Jawa. Luar Jawa lebih menarik sebagai pusat politik etis karena daerah tersebut masih memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Sedangkan jawa telah dalam keadaan rusak yang tentunya menyedot dana besar dari kas negara Belanda.

Kedua, adanya dua pandangan yang memiliki pusaran berbeda. Ada yang berpandangan politik etis harus mampu menumbuhkan kecerdasan dan kesejahteraan agar tercipta kemandirian sosial. Namun pusaran kedua berpandangan berbeda, dimana kecerdasan dan kesejaheraan tidak serta merta di berikan agar tercipta kemandirian sosial. Kasus ini dapat dilihat dengan program pendidikan yang tidak menggunakan bahasa pengantar lokal, mereka yang sekolah hanya anak-anak bupati, hingga penyumbatan aliran dana politik etis.

Ketiga, terjadinya pertarungan sturktur pada pemerintahan lokal (Indonesia), dimana para bupati dan pejabat pemerintahan lokal lainnya cenderung menguasai dan menimati porgram politik etis Belanda. Adapun sasaran masyarakat lokal, menjadi penonton dari luar.

Kegagalan politik etis itu kemudian, menurut Ricklefs, menjadi industri yang menghasilkan masalah-masalah sosial dan struktural. Transmigrasi hanya sebagai program mobilisasi buruh untuk menanam tanaman unggulan pasar internasional. Transmigrasi juga menciptakan kekaburan hubungan antar kepulauan yang tidak harmonis lagi karena adanya sentralisasi yang memihal pulau-pulau tertentu. Selanjutnya, program edukasi juga menghasilkan masalah baru. Masyarakat lokal harus menanggung biaya bangunan sekolah dan iuran sekolah sekaligus yang didirikan di desa-desa. Program edukasi ini kemudian semakin mencekik masyarakat desa. Mereka sedang dihantui busung lapar, namun untuk menjadi cerdas harus menggadaikan martabatnya agar anak-anaknya bisa sekolah. Begitu halnya dalam hal irigasi. Program ini hanya sebagai proyek irigasi yang mangkrak, yang tidak mampu mendulang kemandirian pangan di tiap-tiap desa.

Terlepas dari sisi kritis seorang Ricklefs dalam mengkritisi program politik etis yang gagal total itu, ada hal yang menarik yang patut kita cermati. Pertama, Ricklefs tidak memotret pemikiran pribumi akan pengaruhnya dalam melahirkan potilik etis. Mengapa Ricklefs  hanya menampilkan pusaran pemikiran politik etis itu hanya dari sudut Belanda. Terlihat politik etis hanya memiliki relasi tunggal (Belanda). Kedua, Ricklefs dengan lugas membandingkan kegagalan politik etis Belanda di Indonesia dengan keberhasilan politik etis Amerika Serikat di Vietnam.  Mengapa perbandingannya hanya Vietnam dan memiliki relasi dengan Amerika Serikat. Ricklefs juga tidak dengan lengkap memuat peranan kaum imperialis klasik hingga modern dalam menancapkan program politik etis pada daerah-daerah jajahannya. Tentu saja, tulisan Ricklefs ini mengundang tanya.

Tulisan Ricklefs tentang zaman penjajahan baru dapat kita jadikan bahan pelajaran untuk membangun Indonesia masa depan. Ricklefs telah memberikan pelajaran penting pada kita (bangsa Indonesia), dimana dalam menjalankan program pembangunan, harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Keberanian Ricklefs menuding Belanda dalam politik etis yang penuh dengan keragu-raguan akan data yang memuat hasil politik etis, jangan sampai kita tiru. Jangan-jangan banyaknya kasus kemiskinan pada diri kita ini, akibat dari keberlangsungan zaman penjajahan baru.

Sumber review:
Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. Halaman: 327 – 351.

Ngaliyan, 25 November 2011


[1] Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Pamotan, sedang studi lanjut di Pendidikan IPS PPs UNNES.
[2] Politik etis berawal dari kritik yang dimuat oleh novel Max Havelar (1860) yang menuntut kebiadapan pemerintah Belanda dalam menciptakan penderitaan masyarakat Jawa (lihat hal, 37).
[3] Saya tidak begitu sepakat dengan istilah balas kasih yang dicetuskan pada akademisi Belanda yang menaruh empati pada Indonesia. Istilah politik etis pun, saya melihat ada unsur eufimistis dan hiperbol. Adapun van Deventer menyebutnya sebagai “suatu utang kehormatan”. Apakah kita pernah dipandang terhormat. Lagi-lagi kita sedang dalam pangkuan hegemoni istilah.Bagaimana tidak, rakyat kita ini dipaksa untuk memperkaya Belanda, tetapi mengapa harus di balas dengan kasih. Jelas, paksa dan kasih adalah dua kutup yang berbeda. Adapun van Deventer menyebutnya sebagai “suatu utang kehormatan”. Apakah kita pernah dipandang terhormat. Lagi-lagi kita sedang dalam pangkuan hegemoni istilah.

Oct 14, 2011

Kearifan Lokal Dalam Penguatan Pangan Nasional


Salah satu faktor penting yang perlu dijaga dalam suatu negara adalah ketersediaan pangan nasional yang cukup. Ketergantungan pangan nasional hanyalah akan menjadi pencipta suatu kehancuran suatu negara. Agar tidak tercipta ketergantungan pangan nasional terhadap stok pangan dari luar, perlu adanya gerakan kemandirian pangan nasional.

Hal mendasak yang perlu dilakukan diantaranya studi ketersediaan bahan pangan nasional. Selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan rekayasa bahan pangan nasional menjadi suguhan pangan siap saji.

Dengan demikian, maka akan tercipta diversitas ketahanan pangan nasional, tercipta penguatan sistem ekonomi nasional, tercipta tatanan kualitas hidup masyarakat nasional, hingga kemudian terciptanya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.

Studi awal diversitas bahan pangan endemik di tiap-tiap daerah, mendesak perlu dilakukan. Studi terdahulu yang relevan tentang hasil olahan pada tanaman pangan endemik juga menjadi hal penting yang tidak dapat ditinggalkan. Terdapat beragam alasan dan pemilihan salah satu bahan tanaman pangan untuk diolah menjadi makanan kemasan.

Pemilihan bahan tanaman pangan untuk menjadi makanan kemasan-pun perlu diperhatikan. Beberapa hal diantaranya; ketersediaan bahan baku di lapangan, kandungan gizi dalam tanaman pangan sesuai standar, keunggulan khasiat kandungan dalam tanaman pangan, mampu menghidupkan kajian relevan dengan kurikulum sekolah di berbagai jenjang, melibatkan dan memanfaatkan pemilik pengetahun dan ketrampilan lokal sebagai pengolahnya, ketersediaan teknologi tepat guna, terbukanya peluang pasar hasil produk olahan, hingga syarat tentang penopang pelestarian jenis varietas tanaman pangan nasional.

Dengan demikian langkah studi yang menghasilkan jenis makanan kemasan jelas-jelas dinantikan, guna menciptakan keseimbangan akan kelestarian tanaman pangan lokal, pengetahuan lokal, sistem ekonomi, dan kualitas hidup masyarakat sekitar.

Oct 13, 2011

Preseden Buruk Pendidikan Kita


Diskusi dengan teman guru di teras kelas, perihal kelulusan siswa, sebagian besar tiap-tiap sekolah melakukan pengatrolan nilai raport siswa. Pengatrolan nilai siswa yang dimaksud disini yaitu memanipulasi nilai siswa, dimana nilai jelek menjadi nilai baik. Pengatrolan nilai raport siswa yang dilakukan oleh guru (tanpa sepengetahuan siswa dan orang tua) agar siswanya lulus. Karena sejak pada tahun ini (2011), kelulusan siswa tidak hanya dikendalikan nilai UN (Ujian Nasional), nilai raport juga menjadi faktor penting yang menentukan apakah siswa yang bersangkutan itu lulus atau tidak.

Sekolah merasa gagal dalam menjalankan pelayanan pendidikan (mengajar), jika siswanya ada yang tidak lulus. Sekolah juga ketakutan tidak mendapatkan anak didik, jika ada salah satu anak didiknya tidak lulus. Ketakutan psikologis inilah yang mendorong tiap-tiap guru, wakil kepala sekolah, hingga kepala sekolah, menjalankan praktik manipulasi nilai. Dimana nilai raport siswa yang jelek, disulap menjadi nilai cantik.

Tindakan para guru, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah, ternyata menuai preseden buruk. Anak-anak yang nilainya jelek, tiba-tiba berubah menjadi cantik, saling bercerita satu dengan yang lainnya. Cerita ini bahkan merampah kepada adik-adik kelasnya, yang sekarang sedang duduk di kelas bawah hingga kelas yang siap menghadapi ujian. Orang tua murid dan masyarakat juga telah mendengar kabar ini.

Para anak didik sekarang, tidak lagi hawatir akan kelulusan. Orang tua juga tidak lagi hawatir tentang ketidak lulusan anak-anaknya. Karena kelulusan telah dijamin oleh para guru, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah. Tentu anak-anak sekarang tidak usah susah payah belajar untuk mendapatkan nilai raport. Orang tua juga tidak susah payah menyuruh anak-anaknya untuk belajar, karena nilai raport dijamin bagus. Yang penting pada saat ujian digelar, siswa telah lunas bayar spp dan uang bangunan, dan siswa tidak melakukan tindakan asusila, pasti di jamin niai raport memuaskan. Karena jika nilai raportnya jelek, bukan hanya siwanya yang terancam tidak lulus, tapi sekolahnya juga terancam gagal dan ditinggalkan masyarakat, alias tutup.

Jika sebelum tahun 2011, nilai raport masih memiliki muatan kejujuran dari seorang guru, ternyata pada saat ini, ada kecenderungan, nilai raport telah terkontaminasi dengan nilai-nilai kebohongan dari guru. Raport hanya sebagai topeng kepura-puraan. Dan tragisnya, yang menjadi industri kepura-puraan adalah lembaga pendidikan yang pada hari ini masih menjadi harapan (ideal) bagi semua orang.