Galery

Galery

Perencaan dan inovasi pendidikan IPS_02_oktober_2010

Perencaan dan inovasi pendidikan IPS
Prof. Wasino
02 oktober 2010

Pendidikan dimanapun ada intervensi dari pemerintah. Tidak pandang bulu itu sekolah negeri atau swasta. Hari ini, sekolah swata juga minta dibiayai oleh pemerintah.

Hari ini kita akan membahas tentang silabus. Apakah dalam silabus ips mendapatkan intervensi dari pemerintah.

Langkah-langkah pengembangan silabus
1.      mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Kenapa kok di kaji lagi. standar kompetensi dan kompetensi dasar bukan merupakan urutan dan bisa dibolak balik. Ini lucu. Padahal dari kelas 1 sampai kelas 3 sudah urut. Saya ada info dari  al-azar Jakarta, mengundang ahli untuk membongkar sk dan kd. Sekolah ini tidak memiliki contain materi agama (islam), karena materi agama islam dipandang sangat sedikit. Hal ini dilakukan agar kekhasan sekolah tersebut tdak kabur. Menurut saya yang perlu dilakukan guru di sekolah adalah berdiskusi untuk matapelajaran yang sama dalam menentukan sk dan kd. Kegiatan mengkaji sk dan kd juga disebut membedah standart isi.

Standar isi itu intinya menentukan indicator-indikator. Untuk menentukan indicator adalah menguasai materi dari buku sumber. Misalnya Kd tentang su=truktur sosial, maka membaca buku tentang soerjono soekanto, selo soemardjan, talcot parson, nasikun, dll. Apa yang ada di dalamnya, dipelajari. Misalnya tentang struktur sosial, maka perlu mengetahui struktur sosial yang ada di Indonesia, yaitu struktur sosial jawa, Kalimantan, jawa, desa, dan lain-lain. Indokator harus kontekstual, jadi jangan dari lks atau satu buku saja. Jika guru tidak menggunakan buku teks yang ada dan tidak kontekstual, maka KTSP tidak akan jalan. Kasus UN nilainya jeblok itu karena guru tidak kerja. Ahli-ahli yang membuat soal misalnya perubahan sosial, maka ahli itu akan menggunakan teori perubahan sosial yang ada. Jika guru tidak membaca teori perubahan yang sedang berkembang, maka jelas siswa tidak akan dapat menjawab soal. Makanya guru jangan protes saja.

Memang dalam kurikulum kita terjadi perubahan paradigma yang luar biasa. Dahulu, siswa kita cekoi. Apa yang diminum, apa yang dimakan, dan apa yang dihasilkan. Tapi dengan KTSP tidak demikian. Pemerintah hanya memberikan SK dan KD saja. Indicator harus dibuat oleh guru. Guru diharap kreatif dalam menciptakan model.

Banyak LKS yang tidak kontekstual jangan digunakan. Guru hendaknya membuat materi misalnya di tingkat MGMP pada mata pelajaran.

Guru harus berani meremidi. Jika setiap ulangan di remidi hingga mencapai standar komptensi minimal, maka guru-siswa-dan orang tua akan terjadi dialog. Guru harus berani memberi nilai jelek. Jika jelek yang beri jelek. Guru jangan sampai pinter gurunya. Bukan berarti murid tidak boleh pinter, tapi guru tetap membaca buku. Dulu pernah ada di Jakarta, guru dan murid matematika di tes bersama. Ternyata nilainya setelah di test, muridnya lebih baik dari pada gurunya. Ini memalukan. Ini bukan gurunya berhasil, tapi gurunya tidak mau belajar.

Pada kelas tiga, teori materinya menjadi kacau balau. Kelas satu dan kelas dua masih menjadi pendidikan alamiah, tapi kelas tiga sudah tidak. Kelas tiga telah masuk dalam kebijakan pemerintah. Kelas tiga hendaknya tugas sekolah dikurangi. Karena mereka harus mengejar UN dan SNMPTN.

2.      mengidentivikasi materi pokok/ pembelajaran

3.      pengembangan kegiatan pembelajaran

4.      merumuskan indicator pencapaian kompetensi

5.      penentuan jenis penilaian

6.      menentukan alokasi waktu

tugas: 09 oktober 2010
minggu depan bikin silabus
satu kd saja
indikator minimal tiga