Galery

Galery

Islam Arab & Indonesia dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan Sosial

Logikanya sebagai berikut;

Agama sebagai α1
Islam Arab sebagai α2
Islam Indonesia sebagai α3

α2 sejalan dengan α1
α1 menjiwai α2
α2 dijiwai α1

Setiap agama selalu menjujung tinggi nilai kemanusiaan dan norma kemanusiaan. Jadi setiap agama itu mengajarkan toleransi, saling menghargai, dan saling menghormati. Nilai pada dasarnya yaitu sesuatu yang dapat diterima oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Selanjutnya norma itu cara atau aturan untuk mewujudkan nilai tersebut. Dengan demikian agama (Islam atau apa saja) dapat diterima oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Makanya agama Islam yang asal usulnya dari Arab itu dapat diterima di Indonesia.

Nilai ketuhanan yang maha esa, nilai manusia yang beradap, nilai persatuan dalam bermasyarakat, nilai kebijaksanaan untuk semuanya, nilai keadilan untuk semuanya, dan kesejahteraan untuk semuanya. Bagaimana dengan nilai-nilai yang ada di Islam, sama atau beda dengan nilai-nilai yang di Pancasila?

Islam secara umum telah diakui suatu agama penyempurna dari agama sebelumnya. Tentunya nilai-nilai universalnya lebih adaptif. Nilai-nilai yang dibawakan Islam dapat diterima dimanapun, kapanpun, dan siapapun. Hanya saja, nilai-nilai ini kemudian ditafsirkan dengan pelaku yang berbeda dan lingkungan permasalahan yang berbeda. Namun pada dasarnya nilai-nilai universal pada Pancasila dan Islam adalah sama, termasuk dengan jenis agama lainnya. Agama Islam telah tampil untuk memberi kepastian dalam hal perlindungan, keyakinan akan keselamatan, dan hingga kehidupan kelak.

System religi dalam islam biasanya difahami sebagai seperangkat keyakinan yang didalamnya dapat digunakan untuk menjelaskan tentang tuhan, kitab suci, utusan tuhan (nabi) yang isinya tentang petunjuk hidup ke arah yang baik, bukan petunjuk hidup jahat. System religi Islam masuk di Indonesia langsung mendapatkan ruang, karena terjadi beberapa kekosongan dari elemen-elemen religi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Islam hadir dengan system religi yang telah mapan, dan sebagai penyempurna pada system religi sebelumnya. Bahkan system religi di Islam telah memberikan petunjuk seluas-luasnya perihal interaksi yang sifatnya komplek. Jelas hadirnya Islam di masyarakat  memiliki fungsi untuk mencukupi kebutuhan system religi masyarakat.

Dalam sisi histories, agama-agama besar di dunia ini pada dasarnya bertemu dalam ajaran tentang ibrani (agama tauhid). Disebut ajaran ibrani atau rumpun agama ibrani karena system religi yang meyakini menyatakan bahwa sang pencipta itu tunggal atau esa. Tuhanlah yang menjadi simbol kekuatan tanpa batas dalam menciptakan isi dan kehidupan dalam tatanan system galaxy ini.

Agama (Islam) tampil menjadi penenang, pengaman, dan membangun rasa percaya diri, karena di setiap agama menyuguhkan penjelas dan pencerah pada sesuatu yang tidak dapat dirambah manusia (metafisik) dan petunjuk perilaku untuk kehidupan di dunia dan pascaduniwinya. Legalitas kolektif inilah yang kemudian membangun fanatiks dan loyal pada suatu agama. Hal ini ditunjukkan dengan sensitivitasnya isyu-isyu kesucian ajaran agamanya, serta menjaga eksistensi simbol-simbol agama. Bahkan ada yang merasa bersalah jika tidak melakukan demikian. Hanya saja terdapat beberapa sikap dan perilaku yang over behavior. Dengan demikian, agama Islam (dari Arab) dapat diterima secara mayoritas oleh masyarakat Indonesia.