Galery

Galery

Moral Pancasila vs Moral Komunis


Dalam tulisan ini memaparkan materi tentang relevansi  moral pancasila dan moral komunis terhadap sistem pendidikan  di Indonesia. Materi ini diperoleh dari proses perkuliahan pada mata kuliah filsafat pendidikan yang diampu oleh Prof. Suyahmo pada prodi pendidikan IPS di PPS UNNES pada tanggal 12 November 2010 jam 14.00 hingga jam 16.00 wib. Semoga materi singkat ini bermanfaat untuk kita semua, amin.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, Prof. Suyahmo memberikan kesempatan kepada mahasiswanya mempresentasikan relevanasi moran pancasila dan moral komunis dalam pendidikan di Indonesia. Tiga mahasiswa maju mempresentasikan materi tersebut.  Pemikiran tiga mahasiswa yang mempresentasikan makalahnya itu jika dirangkum sebagai berikut;

Pertama, nilai-nilai yang ada pada Pancasila dan nilai-nilai pada komunisme dipandang relevan dalam pendidikan di Indonesia. Pandangan ini beralasan bahwa dalam pancasila dan komunis terdapat nilai-nilai universal yang dapat ketemu. Namun nilai-nilai universal macam apa? Presentasi mahasiswa terputus ketikaterdapat pertanyaan, “apakah pendidikan Indonesia menerima pandangan atheis?”

Kedua, pandangan bahwa nilai-nilai pancasila dan nilai-nilai komunis tidak relevan terhadap pendidikan di Indonesia. Pandangan kedua ini beralasan bahwa nilai-nilai yang terdapat di pancasila dan komunis berseberangan. Namun penjelasan kemudian putus ketika ada pertanyaan, “apakah nilai-nilai universal itu sudah ada sebelum agama turun di muka bumi?”


Secara   ontologism, moral pancasila dan moral komunisme bertemu dalam nilai-nilai universal manusia. Namun kedua moral di atas terdapat perbedaan dalam konteks epistemologinya. Berikut penjelasan lebih lanjut dari prof. Suyahmo.

Dalam filsafat manusia, terdapat nilai-nilai universal yang sama. Beberapa nilai-nilai universal diataranya; nilai keadilan, kesejahteraan, kejujuran, keamaan, keerukunan, gotongroyong, persatuan, kecerdasan, dan lain-lain.  Lah bagian inilah yang disebut tataran ontologis. Sehingga siapa saja pasti setuju tentang nilai-nilai universal di atas. Hal ini sempat menjadi perhatian oleh Gus Dur. Tokoh yang satu ini berani berbeda dengan tokoh-tokoh lain, karena memainkan ontologis. Sempat Gus Dur ingin mencabut TAP MPR tentang  PKI. Secara filsafat manusia Gus Dur menang. Namun  secara Ideologis, Gus Dur Kalah.

Kembali pada pembahasan filsafat manusia.
Lantas persoalannya adalah, dengan cara apa nilai-nilai universal itu diperjuangkan. Inilah pertanyaan subtansial relevan atau tidak moral pancasilan dan moral komunis dalam pendidikan Indonesia.

Ada dua golongan yang sama-sama bertujuan memperjuangkan nilai-nilai universal di atas. Dua gologan itu adalah mereka yang beragama dan meraka yang tidak beragama. Golongan pertama berpandangan bahwa dengan agama, nilai-nilai universal itu dapat terwujud. Golongan kedua pun demikian. Dengan tidak agama, nilai-nilai universal juga akan terwujud. Yang beragama ya memperjuangkan keadilan. Yang tidak beragama juga memperjuangkan keadilan. Dalam proses lebih lanjut, golongan yang percaya bahwa dengan agama dapat memperjuangkan nilai-nilai universal menjadi suatu ideologi. Begitu hal yang mereka yang yakin dengan tidak beragama, juga menciptakan ideologi. Dalam konteks Indonesia, yang beragama itu dibut ideology pancasila. Selanjutnya yang tidak beragama di sebut dengan komunis.

Epistemology merupakan pengetahuan benar berdasarkan ontologisme. Contoh tiga ideology berikut ini. Petama, ideology pancasila yang yakin dalam membangun hubungan vertical dan horizontal. Kedua, ideology liberal yang yakin dalam mewujudkan nilai-nilai universal harus dengan membangun hubungan horizontal dengan baik, dan hubuangan vertical relative positif dan negative. Selanjutnya ideology sosialisme komunis yang berpandangan bahwa hubungan vertical tidak perlu di jalankan, yang perlu dijalankan adalah hubungan horizontal. Pola hubungan yang beragam ini tidak lain hanya bertujuan untuk memperjuangan nilai-nilai universal di atas tadi.

Demikian ulasan perkuliahan pada kali ini. Semoga bermanfaat dan menjadi wahana pencerah dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Amin.