Galery

Galery

Cara Pandang Optimistik Ilmu Sejarah untuk Masa Depan Bangsa



Persoalan sejarah itu dibangun dari pandangan pesimistik, bukan optimistik
(Prof. Bambang Purwanto, dalam Stadium General, PPS, Unnes, 19 Maret 2011). 


 Pada pagi yang cerah (19/3) Prodi Pendidikan IPS Program Pasca Sarjana Unnes, mengadakan Stadium General dan Temu Alumni.
Tema yang diangkat dalam Stadium General kali ini yaitu “Peran Ilmu Sejarah Dalam Kajian Masalah-masalah Sosial dan Kebangsaan di Indonesia” dengan pembicara tunggal yaitu Prof. Bambang Purwanto, M.A, Ph.D dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM.

Kegiatan ilmiah ini dibuka oleh Prof. Maman Rachman selaku Ketua Program Pasca Sarjana Unnes. Dalam sambutan membuka acara tersebut, ketua PPS Unnes ini mengatakan, “Sejarah tidak hanya mengkaji tentang pelaku sejarah, waktu, dan ruang terjadinya sejarah. Sejarah harus dijadikan perspektif untuk mengenal negara. Terlebih sejarah yang digunakan dalam pendidikan”.

Dalam acara ini juga dihadiri Prof. Abu Suud (pendiri prodi pendidikan IPS), Staf Dosesn Pendidikan IPS PSS, Dekan FIS Unnes, dan terlihat beberapa tamu undangan pemerhati sejarah yang tinggal di Semarang.

Peserta stadium general ini diikuti oleh semua mahasiswa pendidikan IPS PPS Unnes beserta para alumni pendidikan IPS.

Stadium General ini dimoderator oleh Prof. Wasino selaku Ketua Program Studi Pendidikan IPS PPS Unnes. Berikut paparan Prof. Bambang Purwanto dalam kegiatan ilmiah tersebut.

Begitu sempit ketika sejarah hanya diletakkan dalam konteks negara dan kekuasaan. Terlebih sejarah hanya dipandang sebagai masa lalu. Sejarah itu untuk masa kini dan masa depan. Bahkan nenek moyang kita tidak pernah mengatakan bahwa sejarah itu masa lalu. Ungkap guru besar Ilmu Sejarah FIB UGM, dengan menyitir pandangan Nanci Florida (sejarawan dan antropolog), sejarah itu untuk mendapatkan masa depan. Dengan demikian ilmu sejarah akan perperan dalam mengatasi masalah-masalah sosial kebangsaan .

Bangsa indonesia ini bangsa besar. Kita jangan hanya menulis Indonesia dijajah oleh Belanda dalam ratusan tahun. Tetapi tulislah bahwa Belanda harus mempersiapkan ratusan tahun hanya untuk menancapkan kekuasaan yang dominan.

Jadi menurut saya, (ungkap Prof. Bambang Purwanto) persoalan sejarah itu dibangun dari pandangan pesimistik, bukan optimistik. Pandanan ini saya berangkat dari sejarawan besar Indonesia, Sartokardijo dan Kuntowijoyo, tentu juga Irwan Abdullah.

Kita itu punya apa, data apa, yang kita miliki untuk merancang masa depan, lha itu baru bener peran sejarah, tambah Prof. Purwanto.

Dalam stadium general Prof Purwanto mencoba mendekonstruksikan pemahaman bangsa ini tentang kemerdekaan Indonesia. Beberapa pertanyaan yang sempat dilontarkan guru besar mantan promotor Prof wasino ini diantaranya; Belanda itu menjajah atau menduduki belanda? Bagaimana pengaruh penggunaan istilah jepang menduduki indonesia? Indonesia memutuskan untuk menjadi negara merdeka. Posisi saat itu sudah berbeda. Indonesia bukan jadi koloni belanda. Apa yang terjadi? Memang kita harus jujur mengakui bahwa yang mengakiri kekuasaan belanda adalah jepang. Itu harus diakui, ungkap Prof. Purwanto.

Indonesia itu lahir dari rahim kolonial belanda. Ada sebuah kesempatan yang hilang pada kita. Tahun 60an ada tragedi enam lima. Kemudian orde baru membuat sistem yang melahirkan kehancuran. Harusnya orde baru itu belajar dari kejadian yang lalu yang mengahancurkan bangsanya sendiri. Jelas, pada waktu ini kita harus telah menciptakan identitas, ternyata gagal. Kita dalam posisi semakin terombang-ambing oleh globalisasi.

Ada ilmuan mengatakan, masa depan itu tidak dapat dirancang, jika tidak memiliki data masa lalu. Saya (Prof. Purwanto) sangat menyesal sekali, padahal nenek moyang kita ini memiliki produk pengetahuan yang luar biasanya. Saya dan kita malah belajar sejarah dari barat yang orientalis yang mengagung-agungkan eksotisme. Kita telah meninggalkan tradisi intelektual yang luar biasa. Sejarah kita malah tidak mengenal kita dan yang ada di sekitar kita. Kita hanya diajarin bahwa itu mitos, itu legenda, dan itu yang lainnya.

Sistem pengetahuan kita hanya untuk membangun sistem modernitas. Islam, yahudi, hindhu, besar tidak memerlukan modernitas.

Antara realitas dengan citra, berbeda. Antara identitas dengan citra, berbeda. Seperti apa yang kita bayangkan di Ambon misalnya. Ambon itu banyak Kristennya. Eh, setelah datang di sana, kok banyak pemeluk agama lainnya juga. Mengapa demikian, Karena kita dibentuk dari sejarah masa lalu yang tidak pernah ngomong sejarah masa depan, ungkap Prof. Purwanto.

Pasca stadium general, penulis (Suhadi, mahasiswa program studi Pendidikan IPS PPS Unnes) sempat melayangkan pertanyaan via email. Berikut dua pertanyaan dari saya (Suhadi) dan tanggapan dari Prof Bambang Purwanto.

Beberapa pertanyaan yang hendak saya diskusikan dengan prof. bambang purwanto. assalamu'alaikum wr.wb From: Gus Hadi <es_lodheng@yahoo.co.id>To: purwantougm@yahoo.co.ukCc: es lodheng <es_lodheng@yahoo.co.id>Sent: Sat, 19 March, 2011 11:42:00Subject: Komentar Stadium General "Peran Ilmu Sejarah untuk Masa Depan Bangsa"

nama saya suhadi,
mahasiswa pendidikan ips pps unnes
saya dari rembang, jawa tengah

1. cara pandang optimismesejarah, dimana sejarah  itu untuk masa depan, bukan masa lalu.
komentar saya prof
bagaimana peran sejarah dalam menata data masa lalu. bagaimana mau masa depan baik, jika data masa lalu jelek? data masa lalu benerin dulu dong prof, baru masa depan.
2. menurut prof bambang, apa dan bagaimana masa depan bangsa indonesia kita ini?

terimakasih
salam dari saya; suhadi rembang 

Re: Komentar Stadium General "Peran Ilmu Sejarah untuk Masa Depan Bangsa"

Dari: "bambang purwanto" <purwantougm@yahoo.co.uk>
Selasa, 22 Maret, 2011 08:55

Mas Suhadi yang baik,
Mohon maaf baru sempat membalas sekarang karena sepulang dari semarang saya kena flu berat yang sebenarnya sudah menyerang saya ketika di semarang hari sabtu. terima kasih perhatian, komentar dan pertanyaannya.
Mengenai data, sebagai sejarawan kita tidak boleh menunggu sistem data diperbaiki sehingga tersedia cukup data untuk dikerjakan sebagai sejarah. Sejarah ditulis tanpa harus menunggu sistem data terbentuk dengan baik karena salah satu tugas seorang sejarawan adalah mencari data baik dalam koleksi yang telah ditata dengan baik maupun belum. Jadi pengadaan data juga menjadi tugas sejarawan disamping tentu saja tugas arsiparis dan  mereka yang bertanggung jawab pada sistem informasi. Keberadaan data yang lengkap memang membantu dalam penulisan sejarah, tetapi semua itu bukan prasyarat yang harus ada untuk menulis sejarah bagi merancang masa depan.
Mengenai masa depan bangsa kita, saya bohong kalau saya tahu jawaban yang pasti, tetapi dari sejarah yang saya pelajari selama ini maka dapat dikatakan bahwa sekarang dan ke depan kita punya banyak pilihan untuk menentukan kemana semua ini akan dibawa, baik dalam arti positif maupun negatif. salah satu pilihan adalah menghentikan indonesia sebagai kesepakatan bersama, yang berarti kembali kepada identitas masa lalu atau membangun kesepakatan baru yang lain. satu hal yang pasti saat ini kita berada pada posisi ketika berbagai elemen utama dari bangsa ini hanya berpikir tentang kepentingan mereka sendi dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat. saya contohkan saja soal teror bom buku akhir2 ini. tanpa data yang pasti, di dalam media kita membaca pernyataan ketua umum pp muhammadiyah mengatakan bahwa bom itu merupakan pengalihan atas kasus century, mafi pajakm, wikileaks dan sejenisnya. kita melihat ada beberapa hal di sini, jika benar tuduhan itu maka dapat disimpulkan betapa piciknya pemimpin bangsa ini, hanya untuk melindungin kepentingan politiknya mengorbankan sesuatu yang lebih besar. Jika tuduhan itu juga tidak betul maka kita juga dapat mengatakan bahwa betapa piciknya seorang yang berada pada posisi sebagai ketua pp muhammadiyah yang juga guru besar dapat membuat kesimpulan dari data yang tidak lengkap. Jika pernyataan dari ketua pp muhammadiyah diplintir oleh media, misalnya dia menggunakan kata "mungkin saja" yang kemudian tidak dimuat oleh media karena media secara lugas menyatakan bahwa ketua pp muhammadiyah berpendapat tanpa kata mungkin untuk membangun sensasi, maka media juga hanya menjadi penghasut. Dari peristiwa itu maka jelas sekali sebenarnya persoalan kita adalah persoalan di tingkat elite, bukan pada masyarakat secara umum. Para elitelah sebenarnya yang membuat berbagai persoalan yang ada tidak pernah ditemukan jalan keluarnya karena mereka hanya berpikir demi keuntungn sendiri tapi selalu mengatasnamakan rakyat. Elite adalah produk pendidikan, maka salah cara yang penting adalah melakukan "revolusi" dalam pendidikan kita secara menyeluruh sehingga terbangun sebuah generasi yang berbeda. Selama pendidikan tidak mengalami perubahan, maka jangan diharap akan terjadi perubahan yang mendasar dalam kehidupan bangsa ini. Coba tanyakan sejujur jujurnya dalam hal apakah dan sejauhmanakah proses pendidikan menjadi salah satu faktor penting yang menghasilkan para koruptor di negeri ini? Jika hal itu dianggap tidak terjadi di tingkat dasar dan menengah, maka saya bisa katakan lewat pengalaman berpuluh tahun baik sebagai mahasiswa maupun dosen, maka pendidikan tinggi merupakan salah satu tempat yang bertanggung jawab pada mentalitas dan tindakan kontra produktif yang berlangsung di negeri ini.
Jika kita melihat realitas itu maka kita cendrung akan pesisimis. tapi seperti saya katakan sabtu kemarin, hanya orang optimis yang punya masa depan. oleh karena itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk tetap memiliki optimisme dan masa depan. sebagai sejarawan saya mencoba membangun historiografi yang seperti itu. Semoga ada manfaatnya.
salam,
bambang

Demikian liputan Stadium General dan Temu Alumni Prodi Pendidikan IPS Program Pasca Sarjana Unnes Universitas Negeri Semarang, dilengkapi dengan diskusi antara Suhadi dan Prof. Bambang Purwanto, dengan tema besar Peran Ilmu Sejarah Dalam Masa Depan Indonesia.