Keta’atan Beragama (Islam) dalam Masyarakat Nelayan


Agama merupakan seperangkat kaidah untuk dijadikan pedoman hidup manusia. Siapapun manusianya (yang beragama) dipastikan menggunakan agama sebagai pandangan hidupnya, terlebih pedoman hidup yang perlu penjelasan di luar kapasitas manusia. Mereka yang selalu menggunakan norma agama untuk hidupnya, kemudian di sebut taat.

Berdasarkan hasil observasi dilapangan, hidup manusia pada masyarakat nelayan sebagian besar didominasi oleh perilaku menangkap ikan di laut, pembagian hasil tangkapan  laut, mempersiapkan berbagai berbekalan melaut, hingga pengisian waktu luang saat di darat. Dari sudut pandangan fungsi, beberapa perilaku dominan masyarakat nelayan di atas dapat dilihat derajat tingkat ketaatannya.

Jika agama berfungsi sebagai pedoman hidup manusia, tentu saja perilaku dominan masyarakat nelayan di atas terbingkai dengan kaidah-kaidah yang terkandung dalam agama. Jika sebaliknya, perilaku dominan pada masyarakat nelayan cenderung jauh dengan kaidah-kaidah yang terkandung dalam agama, tentu saja (bisa dikatakan) agama telah tidak tampil sebagai pedoman hidup masyarakat nelayan. Jika demikian (perilaku disspiritual), apa orientasi agama pada masyarakat nelayan? Padahal sejarah penyebaran agama (Islam), kawasan nelayan menjadi garda depan dalam menjadi lintasan sosialisasi dan internalisasi keagamaan (Islam).

Jika memang perilaku masyarakat nelayan cenderung jauh dengan kaidah-kaidah agama (Islam),  misalnya dia tidak menjalankan perintah atau kuajiban sebagaimana yang menjadikan dia taat, apakah agama (Islam) tidak menyentuh apa yang dibutuhkan oleh ummatnya (masyarakat nelayan) dalam perilaku keseharinnya? Jika demikian, berarti agama (Islam) tidak memiliki muatan atau kaidah-kaidah untuk bagaimana masyarakat nelayan berperilaku melaut, membagi hasil tangkapan laut, mempersiapkan melaut, dan mengisi waktu luangnya.

Untuk mengetahui berapa derajat campurtangan agama (Islam) dalam memberikan pedoman hidup masyarakat nelayan, perlu dilakukan studi tentang apa yang diperankan oleh penyiar agama (Islam) yang ada di masyarakat nelayan. Penyiar agama (Islam) dapat dijadikan variabel penting dalam suatu agama, karena muatan-muatan yang terkandung dan yang dibawakan oleh agama, diajarkan oleh dan melalui penyiar agama.

Bagaimana menurut anda?

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Keta’atan Beragama (Islam) dalam Masyarakat Nelayan"

Post a Comment