Galery

Galery

KRISIS GLOBAL ABAD-21


1.    Catat perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam lingkungan secara global
selama abad 20.

Kecenderungan perubahan lingkungan di abad 21

Perkiraan menurut kondisi fisikal alami dan kehidupan saat ini. Ini sudah abad 21.
a.    Penduduk semakin banyak
Pada tahun 1961 baru 70 juta. Tapi rentang 60 tahun, telah berlipat tiga kali. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh adanya proses kelahiran dan kematian. Sekrang jumlah indonesia jumlah 230 juta jiwa. Selama 35 tahun mendatang dengan pertumbuhan 2,5 % menjadi 260 juta jiwa. Kita sendiri yang menjadi momok. Bagaimana ketika manusia ada tetapi makanan tidak ada. Kita hanya memikirkan apa kebutuhan kita, tetapi tidak memikirkan apa kebutuhan ternak kita, apa kebutuhan padi kita, apa kebutuhan rumput kita.
b.    Penduduk semakin padat
Tempat untuk membangun rumah telah menempati lahan yang produktif. Padahal itu menjadi sokoguru pangan kita. Jika lahan itu semakin hilang, maka ketahanan pangan akan semakin retak. Lahan serapan sudah tidak ada, hutan tidak lagi berfungsi menahan air, makin banyak endapan yang dibawa ke laut.
c.    Banyaknya polutan di muka bumi ini
Semakin banyak penduduk, semakin padat penduduk, semakin banyak orang yang menghasilkan sisa konsumsi, maka semakin banyak pula polutan yang dihasilkan oleh manusia.  Kualitas udara semakin buruk. Pada suatu ketika terjadi produksi hama tumbuhan yang luar biasa. Tampaknya ada siklus hama. Hama inilah yang kemudian merubah pola kehidupan disuatu wilayah. Dampaknya nyawa manusia akan terancam.
d.    Kehidupan banyak mengalami tekanan/ stress
Hidup itu sebenarnya enak di desa atau di kota? Secara kultural atau secara struktural dalam mengidentifikasi kota?
e.    Suhu semakin meningkat
Bumi semakin panas. Semakin panas di bumi yang tidak kuat ada daerah polar. Jika es mencair maka terjadi naiknya permukaan air laut. Naiknya permukaan air laut itu serentak dan bisa merambah pada semua wilayah di dunia.
f.     Pusat perkotaan meningkat
Maksudnya kisaran orang yang keluar dari sismtem mata pencaharian pertanian semakin berkurang. Orang-orang yang dikota bisanya diisi oleh kelompok urban. Biasanya orangnya berpendidikan tinggi. Kota menurut perkiraan, jumlah perkotaan dari 30 menjadi 300
g.    Eksploitasi sumber daya alam
Eksploitasi tambang dan mineral lambat laun akan mempengaruhi kenyamanan lingkungan sekitar. Apalagi daerah yang kualitas unsuur haranya berkurang. Maka yang terjadi adalah tidak tumbuhnya tumbuhan tani. Dengan demikian akan terjadi adalah bencana alam yang maha dahsat.
h.    Kendaraan bertambah
Data saat ini, kendaraan bermesin telah meningkat dari puluhan ribu menjadi sekitar 0,5 miliar. Tentu keadaan ini akan meningkatkan produksi karbon yang akan mengancam kehidupan manusia dengan banyaknya penyakit di tubuh manusia karena karbon.
Akhir-akhir ini indonesia makin terpuruk. Berulangkali di televisi kawasan indonesia (jawa barat, dan jawa timur) terjadi banjir. Mulai tahun 2010 kita semakin bingung mana musim kemarau masa musim panas.  Hal ini disebabkan karena global warming. Dengan demikian sektor pertanian, persawahan, dan nelayan mengalami ketidak menentuan. Global warming telah menciptakan curah hujan yang tidak menentu. Yang menentukan itu adalah empat hal itu yaitu atmosfer, litosfer, hidrosfer, dan biosfer. Yang kedua adalah orang yang menentukan dari hitam putihnya empat unsur tersebut. Ada jalan keluar dalam mensikapi air yang melimpah yaitu dengan normalisasi bengawan yang ada.
Jika manusia tidak sehat, maka kualitas mental juga akan tidak sehat. Yang terjadi kemudian adalah pikiran manusia yang ingin merusak alam dan antar sesama. Padahal manusia lahir didunia ini untuk membangun alam dan antar sesama.
i.      Perilaku ekonomi bertambah
Pada saat ini yang merusak lingkungan adalah perkembangan dan pertumbuhan ekonomi. Namun perkembangan dan pertumbuhan ekonomi adalah mutlak. Namun jika penuhi kebutuhan ekonomi dicukupi dari lingkungan, maka ang ternjadi adlaah

2.    Apa yang dimaksud negara-negara maju, negara-negara berkembang dan negara-negara terbelakang ? Sebutkan dengan beberapa contoh!. Dapatkah Andamembuat argumen untuk kasus yang bertalian dengan peran ketiga kelompok negara tersebut dalam komunitas lingkungan secara global?

Bagaimana perspektif geografi dalam memandang dikotomi negara (maju, berkembang, dan terbelakang)? Bagaimana klasifikasi dari negara-negara di atas dan hubungannya dengan lingkungan?

a.    Negara-negara maju adalah sebutan untuk negara yang menikmati standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata.

Ciri Negara maju:
1.       Sebagian besar pendapatan negara didapat dari industri
2.       Pendapatan perkapita tinggi
3.       Angka kematian kecil
4.       Tingkat pendidikan tinggi
5.       Iptek telah dikuasai
6.       Keadaan perekonomian lebih baik
7.       Sebagian penduduk tinggal di kota
8.       Fasilitas di segala bidang terpenuhi
9.       Timbulnya krisis lingkungan segera diatasi
10.   Ekspornya lebih tinggi daripada impor.
Contoh negaranya: Austria, Belgia, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Irlandia, Italia, Luxemburg, Belanda, Portugal, Spanyol, Swedia, Andorra, Islandia, Monako, Norwegia, San Marino, Swiss, Australia, Kanada, Korea Selatan, Hongkong, Israel, Selandia Baru, Amerika Serikat, Kanada , dan Jepang.
b.    Negara-negara kelompok kedua (Negara berkembang): adalah negara dengan rata-rata pendapatan yang rendah, infrastruktur yang relatif terbelakang, dan indeks perkembangan manusia yang kurang dibandingkan dengan norma global.
Ciri-cirinya:
1.       Aktivitas penduduknya sebagian besar bersifat agraris.
2.       Kurangnya kesempatan kerja
3.       Modal perorangan kecil
4.       Pendapatan perkapita kecil
5.       Jumlah tabungan kecil bagi sebagian besar masyarakat
6.       Adanya impor barang primer
7.       Fasilitas masih kurang
8.       Belum menguasai teknologi
9.       Angka kematian tinggi
10.   Ilmu pengetahuan rendah.

Pada umumnya mempunyai corak sedang mengembangkan aktivitas ekonominya. Contoh:  negara-negara di Amerika Utara, Tengah, dan Karibia ( Bahamas, Barbados, Costa Rica, Cuba, Rep. Dominika, El Savador, Guatemala, Honduras), Negara-negara di Amerika Selatan ( Bolivia, Colombia, Chile, Ekuador, Paraguay, Peru, Suriname, Uruguay), Negara-negara di Asia (Afghanistan, Bahrain, Brunai, Burma, Mongolia, Nepal, India, Indonesia, Malaysia)

c.    Negara-negara kelompok ketiga (Negara terbelakang) adalah negara yang ditandai oleh kemiskinan, kota yang dipadati oleh pengemis, jarang memiliki persediaan industri, persediaan listrik yang tidak memadai, tidak memiliki jalan raya dan kereta api yang cukup, pemerintah belum dapat memberikan pelayanan yang memadai, komunikasi yang buruk, rumah sakit dan lembaga pendidikan yang sangat sedikit, penduduk sebagian besar buta huruf, sistem perbankan yang jelak. Contoh: negara Bangladesh, Somalia, Sudan, Eritrea, Haiti dan Yaman.

Peran ketiga kelompok negara tersebut dalam komunitas lingkungan global  yaitu Mewujudkan suatu Kehidupan yang harmonis, ada keseimbangan antara aktivitas manusia dan daya dukung lingkungan alam. Meskipun secara geografis dampak yang ditimbulkan pada lingkungan cukup bervariasi, baik yang bertalian dengan kepadatan penduduk, tata guna lahan, maupun tingkat konsumsi serta karakteristik di masing-masing wilayah yang berbeda-beda, baik dilihat secara lokal maupun regional. Namun, ketiganya merupakan satu kesatuan kehidupan dalam satuan lingkungan global, baik dilihat dari segi manusianya maupun jalinan dalam suatu bentuk kehidupan. Ini berarti bahwa kita semua ikut memanfaatkan sumberdaya sekaligus juga harus menerima resiko yang ditimbulkannya sehingga apabila terjadi kesalahan dalam pengelolaan dalam salah satu wilayah tertentu akan dapat berdampak kepada wilayah lainnya atau bahkan lingkungan secara global. Meskipun solusi terhadap krisis lingkungan ini bertalian erat dengan kondisi masing-masing wilayah ataupun negara dengan bentuk solusi yang spesifik dan berbeda, namun dampak yang ditimbulkan akan dapat pula dirasakan oleh wilayah lainnya secara lebih luas.

Contoh kasus: 
Kebakaran hutan di Propinsi Riau mulai dianggap masalah global karena negara kita merupakan penyumbang besar terhadap perubahan iklim di dunia. Indonesia merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat dan hal ini sebagian disebabkan oleh deforestasi, konversi lahan dan kebakaran hutan yang mengakibatkan jumlah Karbon dioksida (CO2) yang terlepas ke atmosfer banyak. Karenanya tim Greenpeace Asia Tenggara menuntut pemerintah untuk dapat menghentikan kebakaran hutan yang telah menjadi ancaman global terhadap perubahan iklim di bumi.

3.    Buat simpulan mengenai prospek global untuk abad 21 yang bertalian dengan kondisi penduduk dunia, perkembangan ekonomi, lingkungan serta tataguna lahan!. Kelompok negara mana yang cukup berpengalaman dalam tingkat pertumbuhan penduduk yang terbesar dan bagaimana peluang yang dapat diharapkan dalam kesenjangan ekonomi antara negara-negara yang kaya dan dan negara-negara termiskin?

Ada 3 simpulan mengenai prospek global untuk abad 21 yang bertalian dengan kondisi penduduk dunia, perkembangan ekonomi, lingkungan serta tataguna lahan yaitu:
1.    Penduduk dunia akan bertambah antara 2-5 miliar jiwa yang sebagian besar akan terjadi di lingkungan negara-negara miskin. Tekanan terhadap sumberdaya seperti meluasnya lahan yang nganggur (tak produktif) dan kekurangan air bersih akan terus berlanjut serta tingkat perolehan bahan pangan perkapita akan menjadi semakin menurun. Tanpa adanya peningkatan pendapatan di negara-negara miskin akan mengakibatkan mereka hanya memiliki daya beli rendah sehingga tak akan dapat menjadi pasar baru bagi perkembangan ekonomi secara global.
2.    Sumberdaya tertentu (bahan bakar fosil) yang diperlukan untuk pengembangan ekonomi akan menurun dan akan membatasi perkembangan ekonomi serta menekan perkembangan gaya hidup konsumerisme negara maju.
3.    Kebutuhan produk untuk konsumen akan meningkat, namun kapasitas peningkatannya tak seimbang dengan kebutuhan negara-negara miskin. Dalam memasuki era kemajuan baru tersebut tampaknya kesenjangan yang terjadi antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang dan miskin akan terns melebar sebagai akibat makin bertambahnya jumlah penduduk yang cukup besar di negara-negara miskin.

Peluang yang dapat diharapkan dalam kesenjangan ekonomi antara negara-negara yang kaya dan negara-negara termiskin adalah dalam pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu yang semakin banyak untuk negara miskin karena jumlah penduduknya yang banyak, bisa jadi  adanya kekurangan bahan makanan (timbulnya kelaparan). Negara miskin akan merasa kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan pokoknya, sehingga harus mendatangkan dari negara-negara kaya (mengimpor). Kebutuhan produk untuk konsumen akan meningkat pada negara miskin, kapasitas peningkatan negara-negara  kaya tak seimbang dengan kebutuhan negara-negara miskin. Situasi inilah yang disebut dengan kesenjangan ekonomi. Di sisi lain, muncul istilah kapitalisme dalam bentuk negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing.

4.    Apa yang dimaksud dengan "Pembangunan ekonomi" ? Apa yang mendorong dilakukan pembangunan ekonomi dan bagaimana perubahan lingkungan yang ditimbulkannya? Diskusikan dengan dasar observasi bahwa istilah seperti "negara-negara maju" dan "negara-negara berkembang" tersebut adalah dalam pengertian yang sangat relatif sebab ambil contoh untuk "negara-negara maju" misalnya , di negara-negara ini juga sebagian dihuni oleh penduduk miskin yang mempunyai tingkat standar hidup yang sama dengan mereka yang benar-benar
hidup di negara-negara berkembang !

Pembangunan ekonomi yaitu pembangunan yang bersifat kualitatif, dimana pembangunan ini menekankan pada perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian sepertidalam lembaga, pengetahuan, sosial dan teknik,dalam membentuk  masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.

Beberapa hal yang dipandang penting dalam pembangunan ekonomi suatu masyarakat bangsa dan negara yaitu lingkungan, sosial, budaya, teknologi, dan keahlian. Dalam perspektif geografi, lingkungan memegang peranan dalam pertumbuhan ekonomi. Dalam perspektif ini, tumbuh kembangnya suatu masyarakat tergantung pada kondisi lingkungannya. Daerah yang memiliki lingkungan dengan berlimpah sumber daya alamnya, maka masyarakatnya akan sejahtera. Namun dalam beberapa kasus tertentu, faktor lingkungan tidak menjadi dominan, perspektif geografi memandang bahwa kegaalan tersebut dikarena adanya kepentingan politik dan kekuasaan yang bermain. Seperti halnya kawasan Papua (Indonesia bagian timur) yang berlimpah tambang dan mineralnya, namun masyarakatnya tidak dalam keadaan mulia. Suatu kepentingan yang bersifat individualistik dan primordialistik, dalam perspektif ekologi budaya dipandang sebagai faktor penghambat pertumbuhan ekonomi pula. Suatu pola adaptasi yang tidak memihak kepentingan masyarakat dan ketrampilan masyarakat dalam mengolah sumber daya lingkunganya, atau dalam hal ini adalah faktor sosial dan budaya. Adapun faktor seperti sumber daya manusia dan teknologi dapat tersediakan dengan mudah di era globalisasi dan modernisasi.   

Perubahan lingkungan dan pembangunan ekonomi
Bagaimana hubungan pembangunan ekonomi terhadap kualitas lingkungan suatu daerah? Jawabnya sangat berhubungan. Dan yang menjadi pertanyaan penting adalah bagaimana perubahan lingkungan yang terjadi pada suatu daerah yang dalam proses pembangunan ekonomi?

Suatu daerah yang menggunakan faktor lingkungan (unrenewable resources) sebagai penentu suatu pertumbuhan ekonominya, maka jelas kualitas lingkungan berubah. Ekspansi dan eksplorasi sumber daya lingkungan akan selalu dijalankan tanpa henti. Jika metode dalam mempertumbuhkan suatu derajat ekonomi masyarakat, demikian, maka yang terjadi adanya semakin puruknya kualitas lingkungan.

5.    Jelaskan apa yang dimaksud dengan "kapasitas daya tampung bumi" , juga mengenai "kapasitas daya tampung kultural" ! Bagaimana keterkaitan kapasitas tersebut dengan penggunaan (mereka) terhadap sunberdaya terbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tak terbaharui (unrenewable resources), dan mereka mempunyai corak pertumbuhan penduduk yang bagaimana serta tingkat produktivitas bahan makan yang bagaimana pula ?

Bumi dan Kultural dalam Kapasitas Daya Tampungnya

Menurut Botlin dan Keller, kapasitas bumi dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakatnya. Botlin dan Keller melakukan kalkulasi, daya tampung bumi hanya 2,5 milyar manusia jika cara hidup manusia seperti cara hidup orang Amerika.  Namun cara hidup manusia seperti orang Afrika, daya tampung bumi dapat mencapat 40 milyar manusia. Botlin dan Keller menegaskan, daya tampung sekian itu dengan catatan tiap orang hanya menggunakan tanah seluas 1,2 hektar.

Merujuk pendapat Menurut Botlin dan Keller tentang daya tampung bumi dipengaruhi gaya hidupnya, maka pada dasarnya setiap manusia di muka bumi ini juga memiliki daya tampung budaya seluas 1,2 hektar. Persamaan analogi daya tampung bumi dan daya tampung budaya bertemu pada titik gaya hidup. Gaya hidup merupakan potret dari budaya. Dengan demikian daya tampung bumi sama dengan daya tampung budaya.

Kemudian bagaimana bubungan antara bumi, renewable resources, unrenewable resources, corak pertumbuhan penduduk, ketahanan pangan, terhadap kapasitas daya tampung bumi? Dan bagaimana pula hubungan bumi, renewable resources, unrenewable resources, corak pertumbuhan penduduk, ketahanan pangan, terhadap kapasitas daya tampung kultural?

Pertanyaan ini akan dijawab dengan logika sebagai berikut.

Sumber daya alam terbarukan sebagai variabel bebas
Sumber daya alam tak terbarukan sebagai variabel terikat
Ledakan penduduk sebagai variabel terikat
Ketahanan pangan sebagai varibel terikat

Variabel yang bebas, cenderung tidak berhubungan langsung dengan kapasitas daya tampung bumi dan kultural. Selanjutnya variabel terikat berhubungan langsung dengan kapasitas daya tampung bumi dan kultural.

Dengan demikian, semakin tinggi sumber daya alam, semakin tinggi pula ledakan penduduk.
Semakin tinggi ledakan penduduk maka semakin tinggi ketergantungan pangan.
Semakin tinggi ketergantungan pangan maka semakin tinggi kebutuhan akan ruang bumi.
Semakin tinggi akan kebutuhan kapasitas bumi maka semakin tinggi kebutuhan akan kapasitas daya tampung kultural.

6.    Diskusikan melalui hasil observasi bahwa kita hidup dibumi yang secara
geografis kondisnya berbeda-beda. Disitu seringkali ditemukan kondisi yang sangat berlawanan antara keinginan pemenuhan kebutuhan hidup yang diharapkan dengan kondisi lingkungan yang dapat mendukungnya ! Dengan adanya perbedaan tersebut dapatkah kita melakukan redistribusi sumberdaya serta memanfaatkan teknologi baru agar dapat memanfaatkan sumberdaya yang lebihbesar? Bilamana kita telah mencapai batas kapasitas daya tampung planet bumi, apa yang harus kita perbuat dengan adanya pertambahan penduduk yang terjadi?



Ketika Lingkungan Menjadi Pelayan Gaya Hidup

Apa jadinya ketika gaya hidup manusia menderu-deru untuk pemenuhan kebutuhan hidup? Apa jadinya ketika lingkungan menjadi pelayan gaya hidup masyarakat? Apa jadinya ketika teknologi baru hadir untuk menjawab kondisi lingkungan yang harus memenuhi kebutuhan manusia? Dan apa jadinya ketika ledakan penduduk tidak mampu ditampung lagi bumi?  

Untuk menjawab problem ekologi, sosial, ekonomi, dan kependudukan, penulis menggunakan pendekatan ekologi budaya. Ekologi budaya muncul sebagai hasil kerja Carl Sauer pada geografi dan pemikiran dalam antropologi. Ekologi budaya mempelajari bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan alamnya. Menurut David Kaplan & Robert A. Manners, adaptasi merupakan proses yang menghubungkan sistem budaya dengan lingkungannya.

Dahulu, jauh sebelum moderninasasi dan globalisasi mengusai pola interaksi sosial, hubungan lingkungan dan manusia dalam keadaan lestari. Namun ketika globalisasi dan modernisasi hadir, tingkat lestari antara lingkungan dan manusia tidak harmoni. Ragam kebencanaan alam dan menciptakan kebencanaan sosial kemudian hadir silih berganti.

Adaptasi manusia terhadap lingkungan telah berganti haluan. Perilaku nerabas menjadi pilihan nomor tunggal dalam rangka memenuhi kebutuhan setiap anggota masyarakat. Arus globalisasi dan modernisasi inilah yang hingga kini tertuding (!) karena digunakan sebagai pelayan unsich belaka, bukan menata keteraturan pola lingkungan dan manusia.

Pandangan manusia, alam sebagai materi satu-satunya yang dapat meningkatkan kualitas hidup hingga kualitas sosial dan budaya. Paradigma kebudayaan material menjadi panglima.

Keterbatasan perilaku manusia dalam menguasai alam dijawab kemudian dengan hadirnya teknologi baru. Keterbatasan berubah menjadi keterjangkauan. Apa saja bisa dimaterialkan untuk memenuhi kebutuhan sebagai pelanggengan status dan peran kepentingan sektoral belaka.

Menurut penulis, ragam masalah sosial dan lingkungan muncul, dipengaruhi oleh “pola adaptasi” manusia dalam menaklukkan alam. Pola adaptasi inilah yang dalam teori budaya dan lingkungan disebut ekologi budaya. Dimana suatu perspektif yang menjelaskan pola adaptasi manusia dalam memaknai alam.

Permasalahannya adalah adanya gaya hidup tunggal yaitu hedonistik yang harus dipenuhi dengan keadaan lingkungan yang berbeda. Bagi manusia yang hidup pada lingkungan berlimpah sumber daya alam, akan menjadi mudah terpenuhinya kebutuhan manusianya. Namun bagi manusia yang hidup di lingkungan yang miskin akan sumber daya alamnya, maka akan menjadi problem. Namun keduanya dalam jangka pendek dan pasti dalam jangka panjang yang menuai problem lingkungan yang maha dahsyad.

Untuk itu perlu adanya pola adaptasi yang terbarukan. Pangkalnya adalah nilai-nilai budaya yang menciptakan manusia dan alam jauh dari malapetaka. Jika tidak dilakukan rekayasa sosial budaya, termasuk masalah ledakan penduduk akan menjadi problem yang tidak terkendali di kemudian.

Akankan ledakan penduduk yang tidak mampu lagi ditampung bumi harus diungsikan ke planet lain? Jika planet lain telah penuh sesak karena tingkah perilaku pola adaptasi yang eksploratif dan hedonistik, akankah juga akan diungsikan ke planet lain lagi? Tentu memindahkan manusia ke alam selain bumi, tidak menjadi pilihan yang santun.

Untuk itu perlu adanya pola adaptasi yang mampu mengantarkan kelestarian antara alam dan manusia. Pola adaptasi tidak menjadi mulia, jika hanya menjadi pelayan gaya hidup manusia.

7.    Bagaimanapun dan apapun pandangan kita menghadapi kehidupan manusia di bumi serta kondisi lingkungan secara global, yang jelas kita harus sepakat mengenai perlunya untuk memperbaiki cara-cara hidup kita, interaksi dengan lingkungan serta cara-cara kita mengkonsumsi. Diskusikan mengenai bagaimanadan dengan cara apa yang harus dilakukan oleh komunitas global, baik merekasebagai konsumen, pemimpin, pendidik / guru, maupun sebagai pengambil keputusan !

Masa depan kehidupan manusia dan lingkungan

Bagaimana masa depan kehidupan manusia dan kecenderungan lingkungan saat ini? Bagaimana peran setiap manusia dengan status dan peran yang berbeda dalam memandang masa depan kehidupan manusia dan lingkungannya? Berikut pandangan penulis tentang dua masalah di atas.

Pada bagian ini, akan digunakan perspektif tentang kerangka nilai dari Cluckhohn yang di Indonesia banyak dipublikasikan oleh antropolog Koentjaraningrat. Salah satu dari lima kerangka nilai tersebut adalah tanggapan mengenai hakikat alam (MA). Variainya:  masyarakat Industri memiliki pandangan bahwa manusia itu berada di atas alam, sedangkan masyarakat agraris memiliki pandangan bahwa manusia merupakan bagian dari alam.  Dengan pandangannya terhadap alam tersebut, masyarakat industri memiliki pandangan bahwa manusia harus menguasai alam untuk kepentingan hidupnya, sedangkan masyarakat agraris berupaya untuk selalu menyerasikan kehidupannya dengan alam.

Tentu dari perspektif Cluckhohn di atas akan melahirkan dua kekuatan besar akan hubungan manusia dengan alam. Pertama, kekuatan masyarakat industri untuk menguasai alam untuk dijadikan instrumen transaksi ekonominya. Sedangkan kekuatan kedua adalah masyarakat agraris menjunjung tinggi keselarasan alam yaitu hidup saling berdampingan.

Namun pada saat ini tercerung terbentuk kelompok masyarakat industri global sebagai pemegang kendali ekonomi masyarakat agraris. Sedangkan penjaga lestari alam (masyarakat agraris) sebagai kelompok peri-peri yang tidak berdaya dan harus takluk dengan pemegang ekonomi global. Dengan demikian lingkungan hidup semakin terancam dan berdampak pada eksistensi hidup manusia itu sendiri.

Jika terjadi demikian, peran apa yang perlu dilakukan pada tiap-tiap status dalam struktur sosial?  Terdapat tiga status yang memerankan kondisi tersebut, yaitu pemimpin, konsumen, dan pendidik / guru. Para pemimpin dalam setiap pengambilan keputusan harus mengarusutamakan pengelolaan untuk kelestarian hidup dan lingkungan, bukan suatu kepentingan kekuasan dan penguasaan lingkungan. Dalam mengkonsumsi sumber daya alam, para konsumen juga harus mengutamakan kebutuhan pangan, bukan konsumsi berlebihan tanpa batas. Bukan sebaliknya, malah mengkonsumsi sebanyak-banyaknya sebagai simbol kelas sosial atas, bukan itu. Selanjutnya para guru harus mensosialisasikan, mengenkulturasikan, dan menginternalisasikan pola hidup lestari antara manusia dengan lingkungan hidup.

Dengan demikian,  masa depan lingkungan hidup beserta manusia mendapatkan pemuliaan antar sesama.

Para guru, pendidik, dosen, pemerintah, dan masyarakat jangan pura-pura tidak tahu. Semua elemen harus berperan aktif dalam menanggapi perubahan lingkungan yang cenderung merusak lingkungan. Suatu suhu yang panas, tidak hanya disebabkan satu kegiatan di wilayah tertentu, tapi semua wilayah berkontribusi.